Antre BBM, Mobil Hangus Terbakar

533
BERKOBAR: Petugas damkar berjibaku memadamkan Mitsubishi T120SS yang terbakar.

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium bersubsidi untuk dijual kembali dengan harga eceran dilakukan oleh Arifin dan Giyono. Praktik yang dijalankan kakak beradik asal Dusun Bubakan, Desa Ngunut, Kecamatan Bandar, itu terbongkar saat mobil Mitsubishi T120SS yang biasa mereka pakai untuk mengangkut BBM terbakar di Jalan Gatot Subroto Minggu pagi (8/9).

Kejadian bermula saat mereka sedang mengantre membeli BBM di SPBU Ploso untuk kali kedua. Ketika itu antrean mengular sampai 100 meter dari SPBU. Arifin menunggu di warung, sedangkan Giyono di dalam mobil berpelat nomor AE 1698 ZM tersebut.

Pada saat itu tiba-tiba muncul percikan api dari mobil berkelir biru tersebut. Warga yang berada di dekat lokasi kejadian panik. Sementara, Giyono langsung keluar mobil dan lari menjauh. Mendapati mobilnya terbakar, Arifin kaget.

Nyala api langsung membesar. Menyambar BBM yang berada di dalam drum. Sempat terdengar suara ledakan saat itu. Sehingga, tidak ada orang yang berani mendekat. Api baru bisa dipadamkan setelah dua unit mobil pemadam kebakaran (damkar) Pemkab Pacitan diturunkan.

Arifin mengaku tidak tahu dari mana api berasal. Tetapi, dia menduga percikan api muncul dari bawah samping kiri ruang kemudi. Hal itu diperkuat dari keterangan Giyono. ‘’Katanya, api muncul bersamaan saat kakak saya mau mematikan mobil dan menarik hand rem,’’ katanya.

Sebelum kejadian, mereka telah lebih dulu memindahkan BBM premium sebanyak 50 liter yang sudah dibelinya dari SPBU Ploso ke drum. Kemudian mengantre kembali untuk mendapatkan bensin lagi. ‘’Bensin (premium) antrean yang pertama sudah kami pindah dari tangki mobil ke drum,’’ ujarnya.

Arifin mengaku sudah satu bulan terakhir kulakan BBM premium di SPBU Ploso. Namun, karena dilarang membeli langsung dengan wadah drum, praktik sedot tangki mobil dilakukannya. Per liter, premium Rp 6.500 dari SPBU dia jual kepada pengecer seharga Rp 8.000. ‘’Saya jualnya ke beberapa pengecer di daerah Bandar. Tidak setiap hari ambil, tapi saat ada permintaan saja,’’ terang Arifin sembari menyebut sebulan ini sudah lima kali kulakan BBM premium.

Meski demikian, keduanya saat ini harus berurusan dengan polisi. Mereka terancam dijerat pidana penyalahgunaan BBM bersubsidi. (den/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here