Antisipasi Banjir Susulan, JNK Rogoh Duit Miliaran

43

MADIUN – Banjir yang menggenangi jalan tol Trans Jawa 603+600 hingga 604+000 masuk Desa Glonggong, Balerejo awal Maret lalu, mendapat perhatian serius PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK). Pengelola jalan tol itu bakal membuat sudetan melintang di bawah wilayah kebanjiran. Sudetan dengan sistem water balance dinilai sebagai jawaban menghindari genangan air. ‘’Akan kami bangun water balance yang menembus jalan tol, ini menjadi solusi yang direkomendasikan konsultan agar pergerakan air semakin lancar ke Kali Glonggong,’’ kata Direktur Utama PT JNK Iwan Moedyarno kemarin (4/4).

Iwan menjelaskan, sistem water balance diaplikasikan membuat lubang besar dari sisi selatan jalan tol menembus sisi utara. Lubang tersebut terhubung dengan drainase terbuka yang alirannya ditujukan ke Kali Glonggong sisi barat tol sejauh 300 meter. Konsep itu menyikapi problem genangan air yang tertahan di sisi selatan hingga akhirnya meluber ke dalam ruas tol Surabaya–Madiun sepanjang 400 meter. ‘’Sehingga air yang menggenang di sisi selatan bisa segera surut,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

PT JNK baru mengantongi rencana pembangunan water balance sebatas gambaran umum. Terkait detail teknis, mulai jumlah lubang, dimensi lubang dan drainase terbuka, titik yang bakal dibor, hingga estimasi biaya masih dalam kajian teknis konsultan. Namun demikian, perusahaan pelat merah itu memastikan pembuatan water balance dengan cara pengeboran bagian bawah tol. Opsi pembangunan dari atas berupa pembongkaran konstruksi tol dikesampingkan karena terlalu berisiko. Mengganggu arus lalu lintas kendaraan dan repot mengaturnya. ‘’Insya Allah kajian teknis konsultan selesai minggu depan,’’ ucapnya sembari menyebut pembangunan water balance dapat diartikan sebagai peningkatan gorong-gorong yang sebelumnya sudah ada.

Iwan mengatakan, proyek tersebut bakal dilaksanakan tahun ini, melalui lelang terbuka. Dananya merogoh kocek dari kantong pribadi PT JNK. Meski perlu menunggu angka pasti konsultan, dia menaksir biaya yang dikeluarkan mencapai satu miliar lebih. Di antaranya untuk keperluan pengadaan material, sewa peralatan bor, dan ongkos pekerja. Ditambah kemungkinan bertambah panjangnya lokasi water balance. ‘’Target memang hanya sepanjang 400 meter sesuai ruas yang terendam banjir. Tapi sebagai antisipasi jangka panjang, kemungkinannya diperluas,’’ paparnya.

Dia mengungkapkan, hasil survei hidrologi ulang konsultan tidak mengarah pada kesalahan analisa hingga berimbas pada desain bangunan. Yakni, ketika hendak membangun jalan tol empat tahun lalu. Pihaknya meyakini genangan air bisa masuk tol karena debit air Kali Glonggong melimpah. Imbas intensitas curah hujan tinggi dan jebolnya delapan tanggul di aliran sungai yang berhulu di Kare itu. Di sisi lain, manajemen risiko konsultan mengacu siklus kurun 20 tahun ke belakang. Menganalisa tingkatan tertinggi curah hujan, kedalaman banjir, serta tempo surut dan mengalirnya air. ‘’Ternyata yang terjadi banjir dalam siklus 30 tahunan,’’ ucapnya seraya menyebut informasi warga banjir lumayan besar pada 1986 silam.

Mengapa tidak menerapkan manajemen risiko hingga kurun 30 tahun lebih? Iwan berdalih tidak ada patokan saklek dalam jangka berapa puluhan tahun. Namun, bila terlalu lama ditarik ke belakang, biaya yang bakal dikeluarkan pun bertambah besar. ‘’Kami ambil kondisi yang logis dan realistis saja,’’ ujarnya sembari menyebut tidak akan ada pembangunan tanggul permanen sebagai pengganti sandbag yang dipasang ketika kondisi darurat beberapa waktu lalu.

Iwan mengatakan, PT JNK berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo terkait respons penanganan banjir lainnya. Institusi di bawah naungan Kementerian PU-PR itu menentukan jenis mitigasi konkret aliran Kali Glonggong. Sebab, upaya lembaganya tidak akan maksimal jika tak diikuti upaya dari institusi terkait lain. Misalnya, tanggul jebol tidak diperbaiki atau sedimentasi tidak dikeruk. ‘’Karena pada dasarnya genangan air juga kami arahkan ke sungai,’’ ujarnya. (cor/pra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here