Angkutan Sekolah Tak Sejelek Yang Dikira

28

MAGETAN – Tengoklah jalanan Magetan saat jam berangkat dan pulang anak sekolah. Seolah-olah, di mana ada jalan, di situ ada angkot. Warnanya beragam. Kondisinya juga bermacam-macam. Mulai yang terbilang mulus hingga yang penuh ’’hiasan’’ karat. Jalur-jalur protokol hingga kawasan kampung-kampung pun jadi ’’semarak’’. Beda warna, beda kode, tentu beda tujuan.

Pada saat jam-jam sibuk tersebut, suasana berdesak-desakan juga tak luput dari pandangan mata. Kondisi seperti itu saban hari dialami oleh Brilian Wibisono dan sebagian temannya. Karena dia harus bekejaran dengan jam masuk sekolah.

Tak peduli angkot itu sudah overkapisitas. Brilian tetap naik ke angkot dengan cara bergelantungan di pintu. ‘’Adanya ini mau naik apa lagi,’’ ungkapnya.

Brilian mengaku sudah dua tahun terakhir memanfaatkan jasa angkutan khusus pelajar tersebut. Meskipun kondisi fisik angkot itu sudah berkarat dan harus berdesakan dengan penumpang lainnya, tapi setidaknya dia tidak sampai mengeluarkan duit untuk naik jenis transportasi tersebut. Berbeda jika naik angkot biasa. Dia harus mengeluarkan budget sekitar Rp 8 ribu pulang-pergi (PP). ‘’Alhamdulillah gratis dan untungnya tidak pernah mogok biarpun angkotnya sudah tua,’’ jelas remaja asal Desa Candirejo, Magetan, itu.

Pengalaman naik angkutan khusus pelajar juga dialami oleh Rahmawati Dewi Pujiati. Pelajar kelas IX itu mengaku pernah bergonta-ganti angkutan pelajar. Karena angkot yang ditumpanginya sering mogok. ‘’Di-rolling ke angkot lain karena mogok,’’ terangnya.

Dewi juga merasa sangat terbantu dengan keberadaan angkutan pelajar tersebut. Dia memang tidak diperbolehkan menggunakan sepeda motor sendiri ke sekolah. Seperti teman-teman lainnya. Belum cukup umur, alasan kedua orang tuanya. Sehingga, Dewi disarankan untuk naik angkot saja. “Kebetulan ada angkutan pelajar dan tidak semua bisa naik ini. Sudah dipilih,” terang warga Kelurahan Selosari, Magetan, itu.

Diakuinya, angkutan sekolah tidak sejelek yang dikira oleh masyarakat. Sebaliknya, angkot membawa keuntungan lain. Selain gratis, bisa mengurangi risiko angka kecelakaan lalu lintas. Meskipun sering overkapasitas. Karena jumlah armada yang beroperasi tak mampu memenuhi antusiasme pelajar. ‘’Kalau ada armada baru tentu akan semakin nyaman,’’ ungkap Dewi. (bel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here