Angka Penderita DBD Lampaui Tahun Lalu

39

PONOROGO – Di usianya yang baru enam tahun, bocah itu tentu sedang lucu-lucunya. Barangkali, dia sedang mempersiapkan diri untuk menapaki jenjang sekolah dasar. Sayangnya, masa-masa emas itu terenggut oleh gigitan nyamuk mematikan. Bocah yang tinggal di Desa Wringinanom, Sambit, itu telah berpulang sepekan lalu. ‘’Fogging tidak begitu efektif. Kami berharap pemkab dapat melakukan penanganan lebih,’’ kata Kades Wringinanom Sutini.

Bocah enam tahun dari Wringinanom, Sambit, itu bukan satu-satunya korban. Masih di tahun sama, seorang penderita juga mengembuskan napasnya. Sama-sama tergigit nyamuk Aedes aegypti. ‘’359 orang terjangkit DBD hingga pertengahan Desember ini,’’ ungkap Kasi Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Ponorogo Edi Kusnanto.

Ratusan penderita itu, sebut Edi, melampaui 291 penderita pada tahun lalu. Meski tercatat lebih rendah dibandingkan dua tahun sebelumnya (2016 sebanyak 891 penderita). ‘’Masyarakat harus waspada,’’ ujarnya.

Hujan yang tidak turun setiap hari dua bulan terakhir ini justru meningkatkan ancaman DBD. Itu menyisakan kubangan di berbagai tempat. Sirkulasi air pun tak begitu lancar. Di situlah, nyamuk bisa berkembang biak. ‘’Dalam waktu seminggu jentik nyamuk bisa tumbuh dewasa. Penyebaran virusnya cukup sepekan,’’ urai Edi.

Sebaliknya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, sirkulasi air justru lebih lancar. Jentik nyamuk sulit hidup di air yang terus mengalir. Edi menyatakan seluruh kecamatan di Ponorogo endemis DBD. Tak ada wilayah yang luput dari ancaman gigitan nyamuk Aedes aegypti. ‘’Untuk daerah tertentu seperti Babadan, setiap tahun selalu ada penderitanya (DBD, Red),’’ bebernya.

Tingginya jumlah penderita di sepanjang tahun ini sejatinya telah disikapi. Dengan menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dalam berbagai kesempatan dan lokasi. Gerakan mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, serta menguras bak mandi secara rutin harus dilakukan. ‘’Menguras bak air jangan lewat seminggu sekali. Karena jentik nyamuk bisa berkembang dalam waktu seminggu. Harus disikat, jangan sekadar mengganti air di bak, itu tidak efektif,’’ jelas Edi.

Selain juga fogging atau pengasapan di berbagai lokasi. Butuh dukungan masyarakat untuk membasmi jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti. Dinkes pun menggalakkan gerakan juru pemantau jentik (jemantik) di setiap rumah tangga. ‘’Ada yang bertanggung jawab terhadap PSN di rumah masing-masing. Jemantik harus mencatat dan itu dipantau oleh dinkes,’’ terangnya. (mg7/naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here