Angka Bayi Gizi Buruk (Masih) Tinggi

236

NGAWI – Pemkab Ngawi masih memiliki pekerjaan rumah (PR) besar menekan angka bayi gizi buruk. Evaluasi dinas kesehatan (dinkes) setempat, sepanjang 2017 dari 23.348 balita, 2.933 di antaranya yang berusia dua tahun atau 14,71 persen diketahui masuk dalam prevalensi bayi kekurangan gizi (stunting).

Sedangkan bayi dengan berat lahir rendah sebanyak 419 jiwa dari 10.856 bayi lahir hidup. Sementara, 42 atau 10 persen bayi berat lahir rendah (BBLR) meninggal dunia. ’’Program pengentasan gizi buruk harus dimulai saat hamil, yaitu ketika menangani ibu yang mengalami KEK (kurang energi kronis, Red),’’ kata Plt Kepala Dinkes Ngawi dr Yudono kemarin (12/4).

Untuk menekan angka gizi buruk, dinkes kemarin mencanangkan Bulan Peduli Ibu Hamil. Bupati Budi ’’Kanang’’ Sulistyono dan Ketua TP PKK Ngawi Sri Eko Rustianti hadir dalam acara yang digelar di Kecamatan Kendal itu. Juga para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), tim penggerak PKK, tim teknis rumah sakit, koordinator bidan, serta petugas gizi puskesmas. ’’Kami juga mendatangkan 200 orang ibu hamil, calon pengantin, serta 100 orang kader posyandu Kendal,’’ tutur Yudono.

Bupati dan Antiek Budi Sulistyono –sapaan Sri Eko Rustianti- disambut atraksi reyog. Bahkan, Kanang sempat didapuk menaiki barongan saat memasuki lokasi acara. Sementara, di sebuah ruangan, ratusan ibu hamil (bumil) menjalani pemeriksaan kesehatan oleh petugas medis. ’’Mereka diidentifikasi serta diperiksa lengkap dan rinci untuk mengklasifikasikan kondisi kehamilannya,’’ ungkap Yudono.

Usai diperiksa, para bumil diberi gelang khusus. Warna merah untuk bumil dengan faktor risiko tinggi dan sangat tinggi atau yang wajib bersalin di rumah sakit. Sedangkan hijau untuk bumil dengan risiko rendah dan dapat bersalin di PONED. Gelang tersebut, kata Yudono, dipasang selama masa kehamilan dan dilepas setelah 42 hari pasca persalinan atau masa nifas usai. ’’Semua  bumil termasuk calon pengantin akan didata. Kami berkoordinasi dengan instansi terkait,’’ ucapnya.

Dia mengatakan, selain sebagai upaya peningkatan pelayanan dasar bidang kesehatan, kegiatan itu dilakukan untuk menjamin kesehatan bumil hingga melahirkan. Hal penting lainnya yang menjadi target capaian yakni mengurangi angka kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. ’’Kami optimistis dengan cara ini angka evaluasi 2017 tentang kekurangan gizi dan kematian bayi BBLR dapat ditekan,’’ tambahnya.

Bupati Kanang mengungkapkan, kegiatan itu merupakan upaya pengentasan salah satu isu strategis bidang kesehatan 2018 nomor dua. Yakni, menurunkan angka stunting lewat sinergisitas pemerintah pusat dan daerah sehingga terwujud cakupan kesehatan universal atau menyeluruh.

Kanang mengatakan, program tersebut menjadi salah satu tindak lanjut program pengentasan kasus kurang gizi ’’Restu Ibu’’ yang sudah berjalan di Ngawi. ’’Program ini penting karena berkaitan dengan penyiapan generasi emas di masa mendatang,’’ tegasnya.

Menurut dia, perlu dukungan semua pihak termasuk tim penggerak PKK untuk bisa menyukseskan program tersebut. Pun dia menyebut permasalahan kurang gizi ibarat gunung es yang membawa akibat panjang di masa mendatang. ’’Ini program terpadu seluruh OPD dan berbagai elemen masyarakat dengan puskesmas sebagai leading sector. Artinya, permasalahan bidang kesehatan ini jadi tanggung jawab bersama,’’ imbuhnya.

Dia juga menekankan agar penanganan terhadap masalah teknis maupun nonteknis bumil dan calon pengantin wanita (CPW) dilakukan sedini mungkin. Termasuk dari segi pembiayaan. ’’Penetapan orang tua asuh untuk bumil risiko tinggi juga harus dilakukan. Kalau di tingkat kecamatan sulit, pindah ke tingkat kabupaten,’’ pungkasnya. (ian/c1/isd/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here