Madiun

Anggota MSAC Kini Tak Lagi Kucing-kucingan dengan Petugas

Pengakuan itu datang setelah sepuluh tahun lamanya menunggu. MSAC akhinya mendapat pengakuan. Pun, melalui goresan mural dan grafiti di tembok sejumlah jalan protokol, mereka mampu memberikan sentuhan estetik pada wajah Kota Pendekar.

———-

NUR WACHID, Madiun, JP Radar Madiun

MALAM itu Andry Rachmanto dan lima temannya di Madiun Street Art Crew (MSAC) harus mengalami ’’mimpi buruk’’. Mereka digelandang petugas satpol PP saat menggambar mural pada sebuah dinding di Jalan Citandui, Kota Madiun.

Saat asyik menggambar, tiba-tiba petugas datang. Keenamnya kemudian diangkut dengan truk menuju mako satpol PP. Nyaris dua jam, mereka harus tertunduk di ruang petugas. Setelah didata dan membuat surat pernyataan, Andry dkk disuruh pulang.

Namun, bukannya pulang, mereka kompak kembali ke Jalan Citandui untuk melanjutkan menggambar yang belum rampung. ‘’Nanggung. Kalau nggak diselesaikan malah kelihatan kumuh,’’ ujar Andry Rachmanto mengenang kejadian lima tahun silam.

Ya, sebelum mendapat pengakuan sebagai seniman mural, anggota MSAC dulu kerap kucing-kucingan dengan petugas korps penegak perda. Ketika itu, seniman mural belum dapat berkreasi sebebas sekarang. ‘’Dulu kami ini dikira vandal. Padahal, yang vandal itu yang corat-coret tidak jelas,’’ kata Andry.

MSAC terbentuk 13 tahun silam. Kini, sekitar 30 seniman mural bergabung di komunitas itu. Mereka biasa menuangkan ide melalui mural di sekitar Jalan Mayjend Sungkono, Agus Salim, Pahlawan, Citandu, dan Semeru. ‘’Kalau pertemuan rutin tidak ada. Ketika menggambar bareng itulah kami gunakan untuk berbagi ilmu,’’ lanjutnya.

Pendirian MSAC diinisiasi Andry yang baru pulang dari Jogjakarta 2005 silam. Di Kota Gudeg itu Andry banyak belajar tentang menggambar. Meski begitu, belum sekalipun dia terlibat aksi vandalisme. Termasuk ketika kembali ke Kota Madiun, tanah kelahirannya. Dia menggambar di tembok jalan untuk memperindah wajah kota.

Setahun berselang, dia mulai bertemu sejumlah seniman mural lainnya dan sepakat mendirikan MSAC. ‘’Terus berlanjut sampai sekarang. Di MSAC tidak ada ketua, semuanya sama,’’ tutur pria kelahiran 1992 yang hobi menggambar sejak kelas VIII SMP itu.

Grafiti maupun mural yang digoreskan member MSAC selalu sarat makna. Terutama berkaitan dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Fenomena banyaknya tabung elpiji tiga kilogram yang meledak pada 2012, misalnya,  melahirkan ide MSAC membuat mural berisi kritik.

Mereka membuat gambar dua buah tabung gas melon di Jalan dr Soetomo sepanjang 15 meter. Satu tabung elpiji meledak, sedangkan tabung lainnya dikonsep gambar tengkorak. ‘’Gambar itu diselesaikan lima orang dan mendapatkan apresiasi dari warga. Sekarang temboknya sudah dibangun gedung lain,’’ paparnya.

Pada 2016 lalu MSAC mendapat restu pemkot memanfaatkan tembok di Bantaran Kali Madiun sebagai ajang street art. Sejak itu pula para seniman mural tidak lagi mendapat larangan petugas lantaran muncul pemahaman bahwa mereka bukan pelaku vandalisme. ‘’Setelah ada event yang diselenggarakan pemkot bekerja sama dengan Radar Madiun (Madiun Street Art, Red), kami semakin mendapat tempat,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close