Andri Wijanarko Berkibar dengan Breeding Murai

83

Nama Andri Wijanarko di kalangan pecinta burung murai sudah terbilang kondang. Duit jutaan pun rutin mengalir ke kantongnya dari beternak jenis unggas yang memiliki kicau khas itu.

————–

RUMAH Andri Wijanarko di Desa Banget, Kecamatan Kwadungan, sepintas tak jauh beda dengan bangunan tempat tinggal lainnya. Namun, setelah melewati teras depan dan lorong garasi, sayup terdengar kicauan burung. Semakin dalam masuk, kicauan semakin kentara. ‘’Masuk lagi, paling ujung,’’ teriak Andri di sela kicauan burung.

Beberapa sangkar menggantung di muka bangunan belakang rumah Andri. Ada yang dikerudungi kain, sebagian lagi menampakkan burung berekor panjang dari sela anyaman sangkar.

Beberapa langkah kemudian, memasuki ruangan bersekat. Dalam tiap ruang, terdapat beberapa kotak bertingkat-bersusun kandang berbahan teralis besi. Pada tiap kotak, ada sepasang burung dominan warna hitam dan berekor panjang. ‘’Semuanya murai. Kalau yang itu mau bertelur,’’ terang Andri.

Andri pagi itu sedang sibuk di sudut ruangan dengan dua buah sangkar di sampingnya. Sesekali dia bersiul dan menjentikkan jari di depan sangkar. Sejurus kemudian, Andri meraih sekotak ulat kandang lantas memberikannya ke burung.

Berganti ke sangkar satunya, Andri mengeluarkan burung dari dalam. Sayap unggas yang digenggamnya lantas dibentangkan. Serius betul dia memperhatikan setiap lekuknya. ‘’Ini belum ada tiga minggu umurnya,’’ katanya sambil memasukkan kembali burung dengan bulu belum begitu sempurna itu ke dalam sangkar.

Andri piawai membudidayakan murai. Anakan muri alias trotol yang berhasil ditetaskan segera berpindah tangan. Namanya sebagai pem-breeding terbilang kondang di kalangan pecinta jenis burung kicauan itu. Pun, ditebus dengan harga hingga belasan juta rupiah per ekor. Kendati begitu, jalan rezeki Andri yang satu ini tidak serta merta datang begitu saja. ‘’Awalnya dulu cuma hobi. Beli murai karena ikut-ikutan teman,’’ ujarnya.

Pada 2016 lalu, Andri menebus sepasang murai seharga Rp 15 juta. Dia sempat mendapat sambutan sinis dari keluarga saat menenteng sangkar burung ke rumah. Gremeng-gremeng famili yang eman lantaran uang belasan juta dibelikan burung tak henti masuk ke telinganya. Namun, kadung hobi membuat Andri tak acuh dengan omelan-omelan tersebut. ‘’Lebih baik dibelikan sapi, kelihatan wujudnya,’’ tiru Andri mengulangi omongan yang kerap masuk ke telinganya tiga tahun silam.

Hobinya tetap berlanjut dan semakin menjadi-jadi. Seiring berjalannya waktu, sangkar-sangkar burung malah menyesaki teras depan rumah Andri. Sering berkumpul dengan pecinta murai lain memantik ide Andri untuk breeding. Iseng-iseng, dia belajar mengawinkan sepasang indukan murai. Tidak dinyana, telur berhasil menetas hingga membuatnya semringah. ‘’Tanya ke teman-teman cara beternak Murai,’’ ujar pria 35 tahun tersebut.

Andri sejatinya tidak berniat menjual murai hasil tetasannya. Nasib berkata lain setelah mengunggah foto tiga butir telur yang kemudian berhasil menetas ke media sosial (medsos). Banyak yang kepincut. Kemudian, dari mulut ke mulut dia semakin dikenal di kalangan kicau mania khususnya pecinta murai. ‘’Setelah laku dan tahu berapa untungnya, orang tua baru berhenti ngomel,’’ ujarnya.

Andri kini memiliki 12 indukan murai. Ada jenis lokal asal Medan, blacktail, dan indukan impor dari Singapura. Juga dua anakan yang berumur belum genap sebulan.

Hobi berujung jalan rezeki benar-benar dialami ayah satu anak ini. Anakan hasil breeding Andry banyak diminati kicau mania eks Karesidenan Madiun maupun kota-kota besar seperti Solo, Jogjakarta, dan Jakarta. ‘’Trotol lokal usia sekitar satu bulan harganya Rp 2,5 sampai 3 juta per ekor. Kalau hasil persilangan antara Rp 10 sampai 15 juta,’’ paparnya.

Murai tidak bertelur hanya saat sedang ganti bulu. Selebihnya, rata-rata tiga butir dihasilkan tiap kali bertelur. Pun, saat ini Andry sampai kewalahan memenuhi permintaan dari para pecinta murai. Bahkan, sudah ada yang inden kendati masih berbentuk telur. ‘’Kadang ada yang mati juga karena sakit. Biasanya pas pergantian musim,’’ sebutnya.

Menahun berkecimpung dengan murai, membuat Andri paham betul seluk beluk jenis burung yang satu ini. Biasanya, sepekan setelah menetas, trotol dibiarkan bersama induknya. Setelah itu, dia mesti gemati saban hari ngloloh anakan yang telah dipisahkan dari induknya.

Dengan pur, ulat kandang, kroto, dan jangkrik, dia biasa menyuapi anakan murai. ‘’Umur paling rentan kena penyakit itu saat 21 hari. Cara mengatasinya, harus rajin-rajin membersihkan kandang,’’ paparnya. ***(deni kurniawan/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here