Andri Setiono, Pegawai Honorer Dishub yang Merawat Masjid Agung Darul Falah

241

Andri Setiono punya dua tugas berbeda. Selain sebagai staf di Dishub Pacitan, pegawai honorer itu merawat Masjid Agung Darul Falah. Pekerjaan merawat rumah Allah itu ikhlas dilakoninya.

———————

SUGENG DWI, Pacitan

SERAGAM putih dengan emblem bertuliskan Dinas Perhubungan (Dishub) Pacitan melekat di badan Andri Setiono. Bila sebelumnya memegang bolpoin dan kertas, kini berganti gagang sapu dan mesin penyedot debu. Perlahan karpet masjid Agung Darul Falah disapu. Selanjutnya, sajadah digulung untuk diganti yang baru.

Sudah tiga tahun lamanya, Andri bertugas merawat masjid besar Pacitan. Membagi waktunya sebagai staf bidang sarana tranportasi dishub. Dua pekerjaan berbeda jenis itu seringkali membuatnya keteteran. Terlebih ketika masjid dipakai untuk akad nikah pasangan calon penganting. ‘’Saya harus mengawasi,’’ ujar pria 26 tahun itu.

Persoalannya, tidak jarang mempelai atau tamu undangan menggunakan pakaian terbuka. Padahal, yang namanya tempat ibadah sudah seharusnya untuk berpaikan yang sopan dan tertutup. ‘’Jadi kalau ada akad nikah, saya izin di dishub. Kalau sudah selesai, kembali bekerja lagi,’’ ucap warga Dusun Krajan, Desa Kalikuning, Tulakan tersebut.

Meski sulit membagi waktu, Andri bangga dengan tugasnya merawat masjid. Pengabdiannya di rumah Allah itu sebagai “tabungan” dalam membahagiakan orang tua. Meski, secara duniawi belum mampu, namun ganjaran yang dilakoninya saat ini ketika di akhirat kelak. Maklum, suami Mila Azahra itu hanya pegawai honorer yang gajinya minim. Butuh proses panjang untuk memberikan hadiah sesuai keinginan orang tua. ‘’Tapi, dengan pengabdian ini, pahalanya mengalir untuk ibu dan bapak,’’ tuturnya.

Sebelum masjid besar, Andri sempat merawat salah satu masjid di Solo, Jawa Tengah. Tepatnya ketika kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Bengawan 2011 silam. Menyapu dan mengepel dilakoninya selama tiga tahun sebagai ganti menempati masjid. Penyebabnya, minim biaya untuk nge-kos. Apalagi, orang tuanya melarang melanjutkan S-1 di luar kota. ‘’Nggak minder walau tinggal di masjid. Justru saya bangga dan fokus kuliah,’’ ujarnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here