Madiun

Andi Nyaman Bercocok Tanam dengan Metode Hidroponik

MADIUN – Bertanam dengan media tanah sudah biasa. Aan Budi Kurniawan memilih menggunakan media tanam dengan air. Usaha itu sudah ditekuni tiga tahun terakhir.

Suara gemericik air mengalir di pompa-pompa terdengar merdu. Seakan berirama. Semakin nyaman hati ketika melihat adanya beragam sayuran hijau. Ada selada air, sawi, dan kangkung. Ada pula daun-daun mint yang juga dibudidayakan. ‘’Saya pakai dua jenis metode hidroponik, yakni yang dinamis dan statis,’’ ujar Aan Budi Kurniawan, pemilik kebun itu ditemui Radar Madiun.

Kata dia, jenis statis adalah air yang digunakan untuk bertanam tidak mengalir. Sementara yang dinamis seperti miliknya pula. Air harus dialirkan. Dia sengaja menggunakan keduanya. Hanya keterbatasan tempat yang membuatnya jadi bertanam dengan dua cara. ’’Jadi hanya daun-daun mint ini yang saya tanam dengan metode statis,’’ kata pria yang disapa Andi itu.

Daun mint yang dibudidayakan ada tiga jenis. Yakni daun pepermint, menthol mint, dan choco mint. Semuanya dipasarkan di daerah Caruban dan sekitarnya. Per kilogram kangkung dihargai Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu, sawi (Rp 16 ribu sampai Rp 18 ribu), selada (Rp 25 ribu – Rp 30 ribu). Sedangkan  bayam hijau Rp 16 ribu sampai Rp 18 ribu, bayam merah (Rp 25 sampai Rp 30 ribu). ’’Kalau mint, per 50 gram itu saya jual Rp 12 ribu,’’ katanya.

Setiap minggu dirinya bisa panen. Dia sengaja melakukan sistem rotasi agar bisa panen tiap Jumat dan dikirim ke pelanggannya. Sistem rotasi yang dilakukannya lantaran sekali tanam, butuh waktu satu bulan sampai bisa panen. Daripada sekali panen langsung membeludak padahal orderan cukup banyak. Dia pun secara bergiliran menanam sayurannya. ’’Kalau begitu bisa tiap minggu kirim, dan permintaan pasar bisa tercover,’’ katanya.

Sudah tiga tahun sejak pertama kali dia menjajal untuk bertanam menggunakan metode hidroponik. Awalnya, dia memang kesulitan. Butuh waktu tiga bulan untuk bisa benar-benar bertanam sendiri. Andi pun juga tak malas untuk meminta bantuan dari Komunitas Hidroponik Madiun Mataraman yang menaungi dirinya. Peralatan pun juga dia dapatkan dari sana. Bahkan, awalnya di mencoba bertanam cabai, tapi gagal. ’’Karena ternyata cabai itu yang paling sulit dibudidayakan dnegan menggunakan hidroponik,’’ ungkapnya.

Akhirnya, pun dia pun mencoba sayuran. Akhirnya berhasil. Dalam waktu tiga bulan berikutnya dia pun mencoba memperbaiki kualitas sayuran dengan memperhatikan tingkat keasaman air dan nutrisi dalam air. Hingga genap 6 bulan setelah pertama kali mencoba, dirinya berani memasarkan sayurannya. Itu pun juga tidak mudah, lantaran harga terbilang lebih tinggi daripada harga sayuran biasa yang ditanam dengan media tanah. ’’Tapi, hidroponik lebih segar dan lebih sehat karena tidak menggunakan pestisida buatan pabrik,’’ ungkapnya.

Pun, setelah usahanya berkembang dia sempat bingung. Karena, ada tugas lain yang harus dikerjakan. Yakni menjadi teknisi listrik di Pasar Mejayan baru. Pekerjaan yang sudah ditekuni sejak 2014 lalu itu harus dikerjakannya, sementara dia mulai sibuk di hidroponik. Akhirnya, dia memutuskan untuk resign dan fokus ke hidroponik. ’’Saya sudah tidak jadi petugas di pasar sejak 2018 lalu,’’ ungkapnya.

Andi memang sudah terlanjur cinta dengan hobi barunya itu. Dia sebelumnya tidak tahu-menahu apa itu hidroponik. Namun, sejak melihat pameran yang digelar Pemkab Madiun pada 2016 lalu, membuatnya jadi tertarik. Pameran yang digelar komunitas tempatnya bergabung itu membuatnya penasaran. Pun, dia lantas mencari orang-orang yang tergabung dalam komunitas itu. ’’Saya tanya-tanya dan diajak gabung sekalian,’’ katanya.

Dari situlah dia akhirnya mau belajar. Bahkan, sampai usahanya sukses sampai sekarang. Selain menjual produk hasil hidroponik, Andi menjual peralatan yang digunakan bertanam dengan media air. Pun, juga melayani untuk pembuatan set display untuk hidroponik. Meski begitu, dia mengakui kalau masih kekurangan modal. Dia masih memiliki angan – angan membuat green house.

Tanaman hidroponik membutuhkan pelindung agar tidak diserang hama. Hingga kini pun di mengusir hama dengan pestisida nabati. Yakni, menggunakan esktrak daun mimban atau air rendaman bawang putih. Dan kemudian disemprotkan ke tanaman. ’’Itu lebih bagus ketimbang pestisida buatan pabrik,’’ ungkapnya. ******(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close