Andalkan Hastag di Instagram, Karya Tembus Malaysia

199

Seni menggambar alias hand-lettering mulai berkembang di Kota Madiun. Pun Fariz Zainul Musthofa sukses dengan usaha jasa pembuatan desain dengan elemen utama huruf yang dikerjakan secara manual dengan tangan itu. Bagaimana kisahnya ?

DILA RAHMATIKA, Madiun

BERAGAM jenis karya hand-lettering menghiasi dinding ruang tamu rumah Fariz Zainul Musthofa di Jalan Gambir Sawit Utara, Sogaten, Manguharjo. Mulai clothing brand, logo, sampai quotes berisi pesan tertentu. Di antaranya, Gunakan Ilmumu untuk Memberi Manfaat, Bukan Hanya untuk Berdebat.

Ada pula kalimat lucu Karena Ganteng Bukan Takdir disertai gambar pria berjenggot dan berambut hitam tebal. Ini lagi ngerjain pesanan dari Jakarta. Mau diaplikasikan buat kaos wisata Kota Kuningan,”kata Fariz sambil terus memainkan penanya di kertas ukuran A4.

Sejak dua tahun terakhir Fariz berkutat dengan hand-lettering. Sebelumnya, pria 27 tahun itu bekerja di sebuah digital printing Kota Madiun bagian desain. Setelah tiga tahun gabung di perusahaan itu, Fariz memutuskan resign dan memilih berwirausaha.

”Empat bulan setelah resign, saya baru nemuin postingan-postingan lettering di IG (Instagram, Red),”‘ kenangnya.

Merasa tertantang, Fariz akhirnya belajar hand-lettering secara otodidak. Dia pun mulai getol memelototi postingan komunitas lettering yang bertebaran di media sosial. Bersamaan itu Fariz membeli perlengkapan menggambar dan mempraktikkannya. ”Awal-awal bikin masih jelek, garis huruf terlalu tipis atau ketebalan,” bebernya.

Selama belajar, proses yang terbilang rumit adalah membuat anatomi huruf. Pada tahapan ini dibutuhkan akurasi agar huruf terlihat eye-catching. Untuk mempelajarinya, Fariz pun rajin mendalami ilmu kaligrafi. ”Di awal-awal belajar dulu, saya menggambar huruf pakai brush pen untuk kaligrafi supaya bisa membuat huruf yang tebal-tipisnya pas,” jelasnya.

Karya pertamanya diunggah ke akun Instagram miliknya. Saat memposting, Fariz menambahkan belasan hastag terkait hand-lettering seperti #typography dan #goodtype. Pesanan pertama datang dari teman yang merupakan pemilik sebuah distro. ”Saya bikin hand-lettering tentang Kota Madiun,” katanya.

Penggunaan banyak hastag cukup ampuh mengenalkan kreasi seni hurufnya kepada publik. Sejak itu order demi order pun datang dari berbagai daerah mulai kota-kota di Jawa, Banjarmasin, Makassar, Medan, hingga Papua. Bahkan, ada yang dari perusahaan clothing asal Malaysia. ”Kalau di Jawa hampir merata,” sebutnya.

Sejauh ini karya hand-lettering karyanya mayoritas diaplikasikan untuk kaus. Selain itu, tote bag. Juga bisa diaplikasikan untuk topi, tas, dan masih banyak lainnya, ujar bapak satu anak ini sembari menyebut ke depan berniat membuka distro.

Seiring waktu, kemampuan Fariz membuat hand-lettering pun terus berkembang. Kini, untuk lettering tanpa gambar mampu diselesaikannya hanya dalam hitungan jam. Tapi, jika disertai ilustrasi dan kalimat tematik bisa memakan waktu tiga hari sampai satu minggu. ”Cari gambarnya atau mikir kata-katanya, itu yang bikin lama,” ungkapnya.

Jika ramai, dalam satu bulan Fariz bisa menerima hingga puluhan pesanan. Sebab, ada pelanggan yang memesan secara borongan. Satu orang order puluhan desain berbeda. Soal harga, dia mematok banderol Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu. Semakin banyak tulisan, gambar semakin detail, dan ada kata-katanya, semakin mahal, ujarnya. ***(c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here