Ancang-Ancang Sulap 12 Titik Hutan Kota Jadi Objek Wisata

192

MAGETAN – Menyediakan lebih banyak ruang sebagai tempat hiburan keluarga. Itulah salah satu visi misi Bupati Magetan Suprawoto. Alun-alun Magetan pun bakal ditata ulang menjadi taman rekreasi. Hutan kota yang hanya ditumbuhi pepohonan juga akan disulap jadi tempat wisata. Setidaknya ada 12 titik hutan kota yang akan disulap. ‘’Tidak mengubah fungsi. Tapi, ada fasilitas tambahan,’’ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan Saif Muchlissun kemarin (16/12).

Kini pihaknya tengah memetakan keberadaan hutan kota tersebut. Setiap hutan bakal memiliki tema tersendiri. Butuh waktu hingga setahun agar pemetaan dan perencanaan matang. Sehingga, baru akan direalisasikan 2020 mendatang. Muchlis menambahkan, kegiatan tersebut merupakan pilot project-nya. Sebab, tak ada hutan kota di daerah lain yang dijadikan rujukan. Namun, dengan melihat Mojosemi Forest Park, hutan bisa dijadikan tempat wisata. ‘’Supaya masyarakat memiliki banyak pilihan tempat hiburan,’’ ujarnya.

Setelah pemetaan, masih harus dibuat detail engineering design (DED)-nya. Sehingga, kebutuhan anggarannya bisa diketahui. Saat ini, pihaknya belum bisa menyebut kebutuhan untuk program itu. ‘’Belum ada penghitungan. Karena kami masih pada tahap pemetaan,’’ tuturnya.

Setiap hutan akan dibuat tema berbeda. Mulai tema jogging track hingga motor trail. Itu berdasar karakteristik masing-masing hutan kota. Sebab, ada hutan kota yang memiliki kontur tanah rata yang cocok untuk jogging track. Ada pula yang harus melewati jalan setapak untuk menjangkaunya dengan medan yang ekstrem. Sehingga, lebih pas untuk memfasilitasi para pehobi motor trail. ‘’Akan kami buat tematik,’’ terangnya.

Muchlis menjelaskan, semua hutan kota akan disulap bertahap menyesuaikan keuangan pemkab. Agar pembangunannya bisa berkesinambungan, akan diberlakukan skala prioritas. Ada tiga hutan kota yang akan digarap paling awal. Yakni, hutan kota Jelok, Srogo, dan TPA Milangasri. Namun, tidak setiap tahun akan digarap tiga hutan sekaligus. Bisa lebih, bisa kurang. ‘’Karena kebutuhan setiap hutan berbeda,’’ ujarnya.

DLH tidak akan melupakan fungsi hutan kota tersebut. Fungsi utama sebagai daerah resapan air sampai kebutuhan oksigen tetap dikedepankan. Pihaknya tidak ingin setelah dikembangkan justru menenggelamkan fungsi utamanya. Sebab, jumlah kendaraan bermotor semakin meningkat. Otomatis, polutan juga meningkat. Pun banyaknya alih fungsi lahan jadi perumahan akan membuat daerah resapan air semakin berkurang. ‘’Karena sifatnya pengembangan, jadi tidak akan mengubah fungsi utamanya,’’ beber Muchlis. (bel/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here