Ancam Bencana tapi Sengon Semakin Diminati

113

PACITAN – Hutan sengon sempat disebut-sebut biangnya bencana alam terutama longsor di Pacitan. Nyatanya, luas hutan rakyat terus bertambah. Setahun terakhir bertambah 113 hektare. Dari 76.628 hektare jadi 76.741 hektare. ‘’Tiap tahun memang ada peningkatan,’’ kata Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan Wardoyo kemarin (3/2).

Pemicunya, menurut dia, antusiasme warga memanfaatkan lahan untuk tanaman produksi. Salah satunya sengon. Pertimbangannya, keberadaan tujuh pabrik tripleks di Pacitan yang butuh bahan baku kayu sengon. ‘’Kebutuhan bahan baku industri memang tinggi,’’ ujarnya.

Kayu sengon sepanjang 2,6 meter dan diameter 50 sentimeter dihargai Rp 1,4 juta. Sedangkan sengon memiliki karakter tumbuh cepat. Dalam lima tahun saja, pohon bernama latin Albizia chinensis itu siap panen. ‘’Masa tanam pendek, harga jelas, dan kebutuhan pasar terus meningkat. Wajar kalau banyak yang menanam sengon,’’ tuturnya.

Meski begitu, Wardoyo khawatir. Tingginya kebutuhan bakal mengakibatkan pemenuhan bahan baku stagnan. Pasalnya, sengon siap panen tidak lagi tersedia. Buntutnya, pasar mengincar sengon muda dengan ukuran yang relatif kecil. ‘’Karena pasokan sengon standar, produksi sudah tidak ada lagi,’’ ungkapnya.

Tingginya kebutuhan juga membuat kondisi alam terancam. Sengon yang masih memiliki fungsi pengikat berkurang. Sehingga, ancaman bencana longsor makin tinggi. ‘’Untuk itu kami juga sosialisasikan dan bagikan bibit tanaman alternatif yang bisa ditanam berbarengan dengan sistem tumpangsari,’’ jelasnya.

Wardoyo menambahkan, pemanfaatan hutan rakyat dengan tanaman sengon mencapai lebih dari 50 persen. Selebihnya berupa jabon, akasia, dan lainnya. Sedangkan untuk luas hutan rakyat tertinggi di Kecamatan Tulakan. Luasnya mencapai 11.054 hektare. ‘’Tertinggi Tulakan dan Kebonagung,’’ sebutnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here