Madiun

Anak Punk Juga Punya Masa Depan Lebih Baik, Begini Kisahnya

Penyesalan selalu datang belakangan. Pun, rasa bersalah masih terus membayangi Jojo (nama samaran) yang pernah terlibat kasus pembunuhan. Mantan anak punk itu kini ingin membayar kesalahannya dengan menanam kebaikan.

=================

NUR WACHID, Jawa Pos Radar Madiun

TATO bergambar tengkorak melekat di tangan kanan Jojo. Tato itu merupakan goresan pertama Jojo saat kali pertama bergabung komunitas punk 2014 lalu. Itu setelah dia dikeluarkan dari sekolah saat kelas VII SMP.

Mata Jojo tampak sembap saat menceritakan masa kecilnya yang kelam. Maret 2016, dia menjalani hukuman di  Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas I Blitar. Kasusnya bukan main-main. Jojo terlibat dalam pembunuhan bersama delapan temannya di penggilingan padi belakang RSUD Caruban. ‘’Niat awal hanya memberikan pelajaran,’’ kata Jojo saat absen di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Klas II Madiun kemarin (14/10).

Sejak umur lima tahun –usai ayahnya meninggal– Jojo hidup bersama neneknya. Bersamaan itu ibunya merantau ke Malaysia untuk membiayai hidup Jojo. Kerinduan dengan orang-orang terdekat dia luapkan dengan bergabung komunitas itu. ‘’Sejak itu bebas rasanya,’’ ujar Jojo.

Sejak bergabung komunitas punk, remaja 18 tahun itu tidak pernah pulang. Dia menjalani kerasnya hidup di jalanan untuk bertahan hidup. Pun sering menghadiri undangan komunitas serupa di berbagai daerah. ‘’Kami kumpul, terus nyegat truk ke kota tujuan. Kadang juga harus beberapa kali oper,’’ terangnya.

Di komunitas itu dia merasa mendapatkan keluarga baru yang lebih nyaman. Susah dan senang dijalani bersama teman-temannya. Mengamen di jalanan, seks bebas, dan pesta miras menjadi hal tak terpisahkan. ‘’Yang penting kami tidak mengganggu orang lain. Silakan berpandangan negatif terhadap kami, itu hak mereka. Tapi, kalau ganggu, kami akan beri pelajaran,’’ ucapnya.

Termasuk ketika korban melakukan pemalakan pada temannya. Tengah malam itu korban diundang pesta minuman keras (miras) di lokasi kejadian. Jojo dan kawan-kawannya hendak memberikan pelajaran kepada korban. Saat di bawah pengaruh alkohol, Jojo dkk beraksi. ‘’Korban dikeroyok,’’ ungkapnya.

Jojo masih ingat betul bagaimana korban tidak berdaya. Dia memukul korban menggunakan genting. Sayang, pengaruh alkohol membuat mereka kalap. Salah seorang teman yang merupakan pelaku utama dan saat ini masih berada di lapas menghantam wajah korban dengan batu. ‘’Langsung seperti sakratulmaut gitu,’’ kenangnya.

Setelah korban tidak berdaya, Jojo dkk melanjutkan pesta miras. Mereka baru tersadar korban sudah tak bernyawa setelah miras menyisakan setetes. Cepat-cepat korban dibonceng tiga dan dibuang ke wilayah Balerejo. Sementara, Jojo bertugas membersihkan darah di lokasi kejadian. ‘’Saya uruk dengan pasir,’’ tuturnya.

Kurang dari 24 jam, Jojo dan delapan pelaku lain dibekuk polisi. Dia menjalani hukuman di lapas. Di tempat itu pula Jojo menambah tato. Di lengan, tangan kiri, dan bagian tubuh lain. ‘’Digambar sendiri pakai botol air mineral yang dibakar, kemudian dicampur odol. Untuk gambar gunakan pulpen yang ujungnya diganti jarum suntik,’’ paparnya.

Di hotel prodeo, Jojo betul-betul merasakan kesepian. Dia rindu keluarga dan teman-temannya. Di titik itulah Jojo ingin membenahi hidupnya. Di sisi lain, perbuatan keji yang dilakukannya selalu membayangi hidupnya. ‘’Termasuk ketika keluar. Ada perasaan senang, tapi ada sesuatu yang mengganjal,’’ akunya.

Oktober 2017, Jojo mendapatkan pembebasan bersyarat. Dia bebas dan kembali ke keluarga. Namun, ada keluarga yang enggan menerima kedatangannya dan ada pula yang mendukung untuk berubah. Pascabebas, beberapa bulan berselang Jojo menato nyaris seluruh wajahnya. ‘’Sering ditanya dan orang-orang penasaran kenapa ditato. Saya jawab iseng, bosan ganteng,’’ kelakarnya.

Hingga kini Jojo sering mengunjungi makam korban. Sekadar bersih-bersih maupun mendoakan. Meski hal itu belum mampu membayar perbuatan yang dilakukannya bersama kawan-kawannya. ‘’Berkali-kali diajak teman gabung ke komunitas punk lagi, tapi saya menolak dengan halus,’’ kata Jojo.

Jojo ingin menebus kesalahan dengan berbuat baik. Saat ini dia bekerja membuat roti di rumah tetangganya. ‘’Keluarga lebih berharga. Saya ingin seperti teman-teman sekolah dulu. Kadang sekarang malu, tapi masa depan lebih penting,’’ ucapnya. *** (isd/c1) 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close