Anak Korban Pembunuhan Getas Anyar Alami Trauma

227

MAGETAN – Pemkab ikut turun tangan atas tewasnya Ida Winarsih di tangan suaminya sendiri. Pihak Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DPPKB dan PPPA) bakal memberikan pendampingan kepada keluarga korban. ’’Ada ibu (orang tua Ida, Red) dan anak korban yang harus kami dampingi,’’ kata pelaksana tugas (Plt) DPPKB dan PPPA Magetan drh Kustini.

Ibu korban masih tidak percaya dengan apa yang menimpa putrinya itu. Dia shock berat. Pun, dengan anak korban yang kini masih duduk di bangku kelas III SD. Keduanya sangat butuh pendampingan dan perlindungan supaya tidak trauma. Saat ini, anak korban tengah dititipkan ke saudaranya supaya tetap dalam pengasuhan. ’’Harus ada pengasuhan alternatif dari lingkungan keluarga, ini sangat penting,’’ ujarnya.

Peran keluarga, dikatakan Kustini, sangat vital dalam mengembalikan kondisi psikis ibu dan anak korban. Seharusnya, ada shelter khusus bagi keluarga terdekat korban tersebut. Namun, pemkab masih belum memilikinya. Sehingga, untuk pengasuhan anak korban, dititipkan terlebih dahulu ke saudara. ’’Mungkin ke depan akan berusaha kami masukkan ke ponpes (pondok pesantren),’’ tuturnya.

Untuk mengembalikan kondisi keluarga korban, bakal ada tim yang mendampingi. Mulai dari pelayanan terpadu, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (PTP2PA), PPA Polres Magetan, organisasi masyarakat (ormas), hingga Kementerian Agama (Kemenag) untuk menyentuh rohani keluarga korban tersebut. Tak hanya pendampingan, pelayanan medis korban juga bakal menjadi tanggungan DPPKB dan PPPA Kabupaten Magetan. ’’Mereka harus diberi perhatian khusus setelah musibah ini,’’ terangnya.

Tim terpadu yang sudah dibentuk tersebut bakal melakukan home visit. Tak cukup hanya sekali dua kali kunjungan. Melainkan paling tidak hingga lima kali. Sampai keluarga korban bisa stabil dan bisa kembali ke lingkungan. Terutama bagi anak agar dia tetap pergi ke sekolah tanpa rasa takut. Usianya masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan pahit yang menimpa ayah dan ibunya. ’’Kami akan bersama-sama memulihkan mereka dari trauma,’’ janjinya.

Kustini menambahkan, tidak ada batasan kunjungan yang dilakukan bagi keluarga korban tersebut. Itu tergantung pada kesiapan keluarga korban untuk dilepas. Berdasarkan pengalaman, waktu yang dibutuhkan keluarga korban pembunuhan untuk pulih dari trauma berbeda-beda. Tidak bisa diprediksi. Tidak sekadar mengadakan home visit, mereka juga akan terus dimonitor perkembangannya. ‘’Tergantung kondisi keluarga korban,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here