Anak-Anak Korban Doktrin Kiamat Bisa Ikut Unas

21

PONOROGO – Anak-anak yang ikut hijrah orangtuanya ke Malang gara-gara doktrin kiamat hampir pasti ikut ujian nasional (unas). Ini menyusul keberhasilan dari tim bentukan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni melakukan mediasi. Tim yang bertolak ke Malang Jumat (29/3) dipimpin Wabup Ponorogo Sudjarno. ’’Kami pastikan keadaan warga Ponorogo baik dan pengasuh menyambut kami dengan baik pula,’’ ujar Sudjarno.

Di Malang, kata dia, tim bertemu langsung dengan warga dan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadiin, Kasembon, Malang Gus Romli. Sudjarno mengungkapkan mediasi yang dilakukan membuahkan hasil. Di antaranya kesepakatan warga Ponorogo bakal dijemput kembali ke daerah asal lima hari sebelum pelaksanaan Pemilu. Agar mereka dapat menyalurkan hak pilih. ‘’Kami sudah bicarakan dengan pimpinan pesantren dan warga kami yang ada di sana,’’ lanjutnya.

Selain itu, lanjutnya, tim juga bakal menjemput anak-anak yang bakal mengikuti ujian 22 April mendatang. Dia membeberkan ada tiga siswa kelas VI yang bakal dijemput. Sehingga mereka dapat mengikuti ujian yang sebelumnya sempat dikhawatirkan pihak sekolah dan dinas pendidikan (dindik) setempat. ’’Untuk ujian praktik sudah disiapkan jadwal susulan,’’ ungkapnya.

Dia mengungkapkan ketiga siswa yang tidak sempat mengikuti ujian praktik dapat mengikuti di jadwal susulan. Pihak sekolah dan dindik telah menyiapkan jadwal susulan agar dapat diikuti siswa yang bersangkutan. ‘’Kami sudah siapkan tim penjemputan,’’ sambungnya.

Usai pelaksanaan Pemilu dan ujian, pihaknya memberikan kebebasan kepada warga yang bersangkutan. Apakah akan tetap tinggal di daerah asal atau kembali mengikuti pengajian di ponpes tersebut. ‘’Mereka mondok tiga bulan sampai Ramadhan. Jadi kalau sudah salurkan suara di Pemilu dan anak ujian, keputusan ada di warga,’’ ujarnya.

Dalam mediasi itu, juga dilakukan fasilitasi pembuatan surat bepergian. Sebab, seluruh warga tidak mengantongi surat tersebut. Sehingga secara formal, warga bersangkutan telah diketahui pergi ke Malang dengan alasan jelas. ’’Di sana aktivitas ngaji seperti di pondok lainnya,’’ tuturnya.

Sudjarno memastikan warga ibadah dengan baik di ponpes tersebut. Menurutnya tidak ada ajaran dan kajian yang menyimpang. Bahkan, menurutnya warga terlihat tenang dan khusyuk mengikuti pengajian di ponpes tersebut. ’’Kami juga sempat mengikuti jadwal aktivitas di ponpes tersebut. Tidak ada yang menyimpang sama sekali, warga juga terlihat khusyuk,’’ imbuhnya.

Terkait isu doktrin kiamat, pihaknya memastikan itu berita tidak benar. Dia membeberkan pemimpin ponpes menyampaikan sepuluh tanda kiamat. Salah satunya, terjadi meteor saat Ramadan. ‘’Untuk berjaga-jaga jika meteor jatuh di Ramadan kali ini, warga membawa bekal,’’ jelasnya.

Jika sepuluh tanda kiamat itu tidak terjadi di Ramadan kali ini, lanjut dia, warga dapat kembali ke tempat masing-masing. Pun membawa pulang sisa bekal yang tidak digunakan selama mondok. ‘’Kami berharap tidak ada permasalahan karena sudah jelas semuanya,’’ ucapnya. (mg7/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here