Ana Widyawati Konsen Mengolah Sampah Non-organik

22
KREATIF: Ana Widyawati menunjukkan salah satu hasil kerajinan memanfaatkan sampah non-organik.

Ana Widyawati memegang banyak peran di salah satu bank sampah di Desa Kepel, Kare, Kabupaten Madiun. Selain salah seorang inisiator, dia adalah juru pilah sampah non-organik yang disetorkan para anggota.

———–

FATIHAH IBNU FIQRI, Kare

KEDUA tangan Ana Widyawati menjamah tumpukan barang bekas di tempat sampah. Tanpa risih, dia memunguti bekas gelas air mineral dan bungkus kopi instan meski banyak kotoran yang melekat. Sampah non-organik tersebut lantas ditimbang, dibawa pulang ke salah satu bank sampah di Desa Kepel, Kare, Kabupaten Madiun yang tak jauh dari tempat tinggalnya. ‘’Dapat setengah kuintal untuk didaur ulang,’’ kata Ana.

Ana tidak sekadar menjadi bagian 75 anggota yang setia menyetorkan sampah non-organik. Selain merangkap sebagai juru pilah, dia termasuk satu di antara lima orang yang membidani lahirnya bank sampah, Maret lalu. ‘’Tidak mudah mengajak warga bergabung karena pola pikir takut kotor dan tidak ada untungnya memilah sampah,’’ ujarnya.

Puluhan warga mulai tertarik kala mengatahui hasil ubek-ubek sampah punya nilai jual tinggi setelah diubah menjadi tas dan hiasan bunga. Dari yang semula dihargai Rp 1.000 per kilogram, nilai sampah plastik itu melonjak hingga ratusan ribu ketika sudah menjadi sebuah karya seni. Sayangnya, banyak anggota yang sekadar menyetor. Mereka belum punya keterampilan dan kreativitas mengolah sampah. ‘’Sudah ada pelatihan, tapi memang butuh waktu dan pembiasaan,’’ katanya sembari menyebut 50 kilogram sampah dikumpulkan setiap bulan. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here