Aman Suro 2018 Libatkan 1.230 Personel Gabungan

415

MADIUN – Kelancaran aktivitas warga Kota Madiun selama bulan Muharam atau Suro mendapat jaminan dari Polres Madiun Kota. Itu menyusul adanya tradisi Suroan dan Suran Agung di kalangan pesilat Kota Karismatik. Namun, keputusan tetap sama, yakni tidak ada mobilisasi massa dalam kegiatan tersebut. ’’Pengamanan melibatkan polres di jajaran Korwil V plus Nganjuk,’’ kata Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu.

Apel gelar pasukan yang dilaksanakan Jumat (7/9) di alun-alun menandai dimulainya operasi dengan sandi Aman Suro 2018. Polres setempat menggelar operasi selama sebelas hari dan dibagi dalam dua tahap. Pertama mulai 8—13 September untuk kegiatan ziarah makam atau nyekar dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Tahap kedua dilaksanakan 21—25 September untuk mengamankan kegiatan Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Tunas Muda. Sebanyak 1.230 personel gabungan dilibatkan.

Lanjut Nasrun, sistem pengamanan Suroan dan Suran Agung nantinya fokus pada titik-titik yang dianggap rawan oleh kepolisian. Antara lain di setiap pintu masuk menuju wilayah kota. Termasuk, kata Nasrun, jalan-jalan tikus yang tersebar. Nasrun enggan menyebut pengamanan di pintu masuk kota itu disebut sebagai penyekatan. Menurutnya, itu merupakan pengamanan lewat penyiagaan personel biasa. ’’Kalau dibilang penyekatan sih tidak. Lebih pada penempatan untuk mengamankan akses itu,’’ ujarnya.

Pun, Nasrun menekankan komitmen yang telah disepakati oleh jajaran kepolisiannya bersama forkopimda setempat dan sebelas perguruan pencak silat. Kepolisian dari jajaran Korwil V termasuk Polres Nganjuk ikut dilibatkan dalam pengamanan. Sebab, daerah-daerah sekitar dinilai menjadi jalan masuk para pesilat itu menuju Kota Karismatik. ’’Kalau ada (pesilat luar daerah) yang mencoba masuk, akan dikembalikan sesuai kesepakatan,’’ beber Nasrun.

Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR) meminta masyarakat, termasuk para pesilat, untuk menghargai kesepakatan bersama yang telah diambil antara forkopimda dan perguruan pencak silat. Sebab, Suroan dan Suroan Agung dipandang kepolisian sebagai potensi yang perlu menjadi perhatian semua pihak. Terutama, karena bertepatan dengan tahun politik. ’’Tidak hanya pada saat Suroan atau Suran Agung, menjaga persatuan dan kesatuan harus dilakukan kapan pun,’’ tegasnya.

‘’Apa yang menjadi komitmen bersama untuk tidak memobilisasi massa harus ditepati. Ini (menjaga kondusivitas tanpa mobilisasi massa, Red) tentu bukan harapan yang berlebihan karena ada hajatan nasional pileg dan pilpres,’’ imbuh SR.

Ketua Paguyuban Perguruan Pencak Silat Madiun Moerdjoko menyambut baik operasi Aman Suro 2018 yang dilaksanakan aparat penegak hukum. Menurutnya, seluruh perguruan pencak silat yang tergabung dalam paguyuban siap melaksanakan komitmen bersama antara mereka dengan forkopimda Kota Karismatik. Yakni, untuk tidak mengerahkan massa dalam hajatan Suroan dan Suran Agung nanti.

Moerdjoko sepakat stabilitas keamanan perlu diutamakan. Apalagi, belakangan pencak silat diperbincangkan sebagai satu hal yang positif usai meraih prestasi di Asian Games 2018. Moerdjoko mengatakan, pihaknya ingin menjaga nama baik sebutan kampung pesilat yang sudah melekat di Madiun. ’’Kami ingin pencak silat di Madiun, yang sudah melekat sebagai kampung pesilat, bisa berprestasi. Apalagi sampai di tingkat internasional, itu tugas bersama seluruh elemen masyarakat,’’ pungkasnya. (naz/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here