Alvi Menangis Dipelukan Khofifah

202

MADIUN – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memeluk erat Alvi Nurrahma. Orang nomor satu di provinsi ini tak kuasa menitihkan air mata kala mengetahui gadis 13 tahun itu yatim-piatu. Momen tersebut terjadi usai penyerahan penghargaan dan santunan kepada puluhan ahli waris yang meninggal dunia dalam keterlibatan tugas Pemilu 2019 di Gedung Grahadi Surabaya Jumat lalu (26/4). ’’Melihat ibu Khofifah menangis, saya jadi ikutan menangis,’’ kata Alvi ditemui di rumahnya di Desa Pilangrejo, Wungu, kemarin (28/4).

Alvi merupakan ahli waris Supin Indarwati, 37, yang meninggal dunia karena dugaan kelelahan bekerja maraton, Rabu (24/4) lalu. Ibunya tercatat anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di tempat pemungutan suara (TPS) 06 desa tempat tinggalnya. Bersama puluhan undangan lain, Alvi menerima piagam penghargaan ibunya atas jasa melaksanakan tugas negara sebagai penyelenggara. Selain piagam yang kini dipasang di dinding rumah, Khofifah juga memberikan santunan. ‘’Uang Rp 15 juta,’’ sebutnya.

Dalam momen berpelukan itu, Alvi sempat berinteraksi dengan Khofifah. Gubernur perempuan pertama Jatim itu menanyakan tentang identitas. Mulai dari usia, sekolah, hingga alamat rumah. Meski tidak ada obrolan spesial, namun dia merasa senang. ’’Saya ahli waris yang kecil sendiri di sana (acara penyerahan penghargaan dan santunan, Red),’’ ucap pelajar kelas VII SMPN 7 Kota Madiun tersebut.

Alvi menanggung duka berat sebagai anak semata wayang. Ayahnya lebih dulu tutup usia karena penyakit tifus belum genap 40 hari dari kematian Supin. Keduanya dirawat di salah satu ruangan dan ranjang yang sama di RSUD dr Soedono Madiun. Tidak ada firasat aneh dirasakan Alvi menjelang kepergian ibunya. Komunikasi –sebelum atau setelah bertugas sebagai KPPS– dipandang sebagai obrolan biasa sehari-hari. Kali terakhir berkomunikasi adalah Senin (22/4) siang. ’’Ibu cepat sembuh, ya. Dijawab iya,’’ ungkap Alvi mengulang obrolannya kala itu.

Remaja yang bercita-cita menjadi dokter anak itu terlihat ceria ketika ditemui kemarin. Perasaan sedihnya mulai hilang berkat dorongan semangat keluarg,  teman-teman, dan guru sekolah. Bupati Madiun Ahmad Dawami juga sempat datang untuk mengucapkan bela sungkawa dan dorongan moril, Rabu lalu. Bupati juga menjanjikan mencukupi kebutuhan sekolah. ‘’Saya diminta membuat rekening bank pribadi. Juga diminta menghubungi kalau ada yang diperlukan,’’ ucap Alvi.

Suhendrik, paman Alvi mengungkapkan tidak sedikit yang mengutarakan keinginan mengasuh keponakannya. Seperti anggota komisi pemilihan umum (KPU) dan panitia pengawas kecamatan (panawascam). Namun, karena sudah beranjak dewasa, Alvi menolaknya. Dia memilih tinggal dengan saudara di Desa Kertosari, Geger. ‘’Hasil rundingan dengan keluarga, uang santunan ditabung dan hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak,’’ ujarnya. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here