Aliran Tiga Waduk Stop Mengalir ke Sawah

113

MADIUN – Penurunan debit air di tiga waduk semakin tak terkendali. Memaksa pemkab menutup pintu saluran sampai waktu yang belum ditentukan. Membuat sedikitnya 11 ribu hektare sawah di sejumlah wilayah cakupan puasa irigasi. ‘’Terpaksa kami tutup karena terjadi penurunan debit air yang cukup drastis,’’ kata Plh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Hekso Setyo Rahardjo, Senin (3/9).

Hekso menyebut, penyusutan tiga waduk yang menampung jutaan meter kubik air itu berlangsung sejak dua bulan terakhir. Pemkab tak punya pilihan selain menyetop alirannya untuk pertanian warga. Mempertimbangkan ketersediaan air demi menjaga konstruksi waduk agar tidak rusak. ‘’Ketentuannya seperti itu,’’ tegasnya kepada Radar Mejayan.

Dari tiga waduk, Dawuhan mengalami penurunan paling drastis. Bila normalnya 5,1 juta meter kubik, kini tersisa sekitar 500 ribu. Pintu saluran air waduk di Desa Plumpungrejo, Wonoasri, itu ditutup per 15 Agustus lalu. Sepuluh hari berselang, giliran pintu Waduk Saradan yang ditutup. Karena volumenya berkurang dari normalnya 2,4 juta menjadi sekitar 400 ribu meter kubik. Jauh sebelum dua waduk itu, aliran air ke pertanian di Waduk Notopuro sudah berhenti sejak 27 Juli. Saat ini tampungan air hanya 243 ribu dari normalnya 2,4 juta meter kubik. ‘’Volume berkurang drastis karena intensitas pendistribusian irigasi pertanian tidak terputus. Mulai masa tanam pertama hingga kedua,’’ ujarnya.

Di sisi lain, air waduk tidak ada penambahan lantaran hujan tidak turun hingga kini. Padahal, sekitar 11 ribu hektare lahan pertanian yang menggantungkan air dari tiga waduk tersebut. Namun, Hekso perlu membuka data untuk mengetahui detail luasan persawahan masing-masing waduk. ‘’Yang jelas alirannya bisa meng-cover hingga dua kecamatan,’’ kata Hekso.

Kabid Pengairan DPUPR Kabupaten Madiun Fachurur Rozy menambahkan, distopnya irigasi tiga waduk itu tidak memengaruhi aktivitas bercocok tanam. Pemkab sudah mengantisipasi dengan ratusan sumur program proyek pengembangan air tanah (P2AT) dan pompa submersible (sumur dalam). Sarana yang masih beroperasi itu diyakini mampu mem-back up ketersediaan air hingga tiba musim penghujan. ‘’Sepanjang petani taat tata tanam lahan pertanian,’’ tegas Rozy.

Backup irigasi dengan fasilitasi P2AT dan pompa submersible itu dipastikan lancar bila petani beralih tanam palawija di masa tanam ketiga bertepatan kemarau ini. Sebab, kebutuhan air untuk tanaman seperti kacang-kacangan hingga ketela sangat sedikit. Berbeda dengan padi. ‘’Kami harapkan petani menyesuaikan kondisi cuaca saat ini,’’ ucapnya.

Kendati penyusutan volume air tiga waduk itu sangat drastis, namun Rozy menilai kekeringan tahun ini belum terlalu parah. ‘’Tahun lalu tiga bendungan itu sampai kering kerontang,’’ ungkapnya. (cor/c1/fin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here