Alat Fogging Sederhana Karya Yoga Pangestu Raih Juara II Jatim

21
INOVATIF: Yoga (kaus hitam) menyabet juara II Jatim dalam lomba teknologi tepat guna di Festival Kampung Kelir.

Aktif di ekstrakurikuler Pramuka, Yoga Pangestu berkesempatan ikut lomba teknologi tepat guna dalam ajang Festival Kampung Kelir. Karyanya berupa alat fogging sederhana mengantarnya meraih juara kedua tingkat Provinsi Jawa Timur.

——-

SUGENG DWI, Pacitan

ASAP mengepul dari ujung tembaga yang dililit menyerupai spiral. Semakin tebal. Asap dari campuran obat antinyamuk itu diarahkan di sekitar lingkungan rumah. Sesekali pompa tabung mini alat semprot ditekan saat kepulan asap menipis. ‘’Ini alat fogging yang saya buat. Alhamdulillah dapat juara,’’ kata Yoga Pangestu, wakil Pacitan dalam lomba teknologi tepat guna di Festival Kampung Kelir, Rabu (3/7).

Yoga pun berhasil menyabet juara II tingkat Provinsi Jatim. Alat fogging ramah lingkungan ini terdiri dari rangkaian korek api elektrik, alat semprot, kawat tembaga, dan slang yang diikat di pinggang. Karya tersebut menarik perhatian para juri yang mayoritas dosen dan insinyur. ‘’Idenya dari keresahan banyak warga yang menderita demam berdarah dengue (DBD) beberapa waktu lalu,’’ ungkap warga Dusun Krajan, Bungur, Tulakan, ini.

Selain mendapat respons positif, remaja kelahiran 18 Juni 2003 itu dijanjikan mendapat dana Rp 20 juta untuk mematenkan karyanya. Bersama perwakilan lain, 4 September mendatang Yoga bakal terbang ke Singapura dan Malaysia untuk studi banding sekaligus liburan. ‘’Agak grogi karena pertama kali naik pesawat,’’ katanya sembari menambahkan akan berada di dua negeri jiran itu empat hari.

Buah manis ini tak lepas dari usaha kerasnya. Dia membuat alat fogging secara otodidak. Beberapa kali gagal sempat dialami siswa kelas XI MAN Pacitan ini. Utak-atik alat sebulan penuh, beberapa kali gasnya bocor. Terkadang asap yang keluar tak sebanyak yang diharapkan. Hingga dana lomba pun nyaris tak cukup menutup kerugian. ‘’Kuncinya gak mudah menyerah. Belajar dari kegagalan,’’ terang putra pasangan Sukemi dan Supatmi ini.

Yoga berharap karyanya bisa mencegah serangan demam berdarah di Pacitan. Pun dapat dicontoh untuk diterapkan oleh warga. Selain murah, proses pembuatannya juga mudah. ‘’Banyak yang kena DBD, perumahan juga dempet-dempet, jadi di selokan banyak nyamuk,’’ pungkasnya.*** (sat/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here