Aksi Heroik Petugas PMK Padamkan Kebakaran Toko Kusuma Indah

182

Aksi menegangkan dilakukan Hanang Kusbyantoro dan sejumlah rekannya dari BPBD Kota Madiun, Sabtu lalu (19/1). Petugas pemadam kebakaran (PMK) itu berjibaku menjinakkan api yang melalap Toko Kusuma Indah Jalan PB Sudirman. Bagaimana kisahnya?

————————

SORE itu Hanang Kusbyantoro bersama dua rekannya dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun baru saja selesai memperbaiki early warning system (EWS)  di Kali Sono, Kelun, Kartoharjo. Sampai di perempatan Klegen dari arah Jalan Thamrin, mereka mendapat kabar telah terjadi kebakaran di kawasan pertokoan Jalan PB Sudirman.

Seketika itu, Hanang menyalakan sirine Mitsubishi L300 yang dikemudikannya dan memacu mobilnya menuju tempat kejadian perkara (TKP). Untuk memangkas waktu, dia sengaja menerobos traffic light yang masih menyala merah. ‘’Kami yang kali pertama sampai di lokasi. Beberapa menit kemudian, teman-teman yang lain datang,’’ ungkapnya.

Tiba di lokasi, Hanang dkk melihat kepulan asap pekat membubung dari lantai 2 toko. Bersama petugas pemadam kebakaran (PMK) lainnya, mereka memutuskan melakukan upaya pemadaman. ‘’Ada yang dari belakang, barat, dan timur, mencoba cari jalan masuk ke atas,’’ terang warga Bangunsari, Dolopo, Kabupaten Madiun, ini.

Setelah melihat kondisi, balkon di lantai 2 akhirnya dijebol untuk jalan masuk petugas. Usai menaiki anak tangga dibantu rekannya, Hanang membuka paksa bagian pelang  berbahan aluminum tersebut menggunakan pencongkel hingga menyisakan kerangka besi. ‘’Lalu, Pak Didik (rekannya, Red) naik. Kami berusaha memadamkan api dari tangga sebelum akhirnya masuk balkon,’’ paparnya.

Lantaran satu-satunya yang memakai peranti keamanan lengkap, Hanang berjalan merangsek masuk mendekat pintu balkon. Kala itu, kobaran api tampak memenuhi balik pintu. Sementara, Didik yang hanya mengenakan masker berdiri di pojokan balkon memegangi slang. ‘’Saya dinginkan dulu yang ada di tepi balkon untuk memudahkan teman-teman masuk,’’ jelasnya.

Sekitar 20 menit berselang, keduanya turun, digantikan personel PMK lainnya. Begitu keduanya sampai di bawah, petugas PMI  bergegas memberikan oksigen yang telah disiapkan. ‘’Sebenarnya saya nggak mau, tapi sudah begitu prosedurnya,’’ ucap pria 43 tahun itu.

Sudah 1,5 tahun Hanang bertugas di BPBD Kota Madiun. Sebelumnya dia sempat bekerja selama enam tahun di sebuah lembaga nonprofit di Malang. Salah satu tugas paling dikenang kala itu adalah saat menjadi tenaga penyuluh di sebuah koperasi yang diperuntukkan bagi warga terdampak bencana tsunami Aceh. ‘’Satu tim lima orang. Tiga bulan sekali ke sana menggerakkan masyarakat dengan koperasi,’’ ungkapmya.

Pada 2013 Hanang memutuskan pulang kampung ke Madiun dan beternak ayam. Singkat cerita, empat tahun berselang BPBD membuka rekrutmen pegawai baru. Tanpa berpikir panjang, dia mengirim surat lamaran dan akhirnya lolos seleksi. ‘’Punya bekal sedikit, waktu kuliah pernah ikut program SAR (search and rescue, Red) bagi anggota mapala (mahasiswa pencinta alam) se-Jatim di Jakarta,’’ paparnya.

Meski belum genap dua tahun menjadi petugas PMK, Hanang telah merasakan beberapa kejadian kurang mengenakkan. Salah satunya ketika pengguna jalan terkesan cuek dengan keberadaan mobil PMK saat menuju lokasi kebakaran. ‘’Padahal sirine sudah kencang. Pernah sampai teriak-teriak, tapi tetap nggak mau minggir,’’ ujarnya.

Dia juga mengeluhkan adanya kerumuman warga di sekitar TKP saat hendak melakukan proses pemadaman. ‘’Seperti di Jiwan kemarin, jalanan sudah sempit, dipadati banyak orang. Jadi susah masuk,’’ ucapnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here