Akibat Gerusan Sungai Grindulu di TPU Duduhan, Situs Watu Lumpang Terancam Hilang

43

PACITAN – Banjir luapan Sungai Grindulu tidak hanya menghanyutkan puluhan makam dan ratusan lainnya di tempat pemakaman umum (TPU) Duduhan, Mentoro, Pacitan, terpaksa dibongkar dan dipindah. Sisa situs makam syeh pun lenyap. Komplek makam yang dulu berjarak empat meter, kini tinggal tersisa setengah meter dari bibir sungai. ‘’Masyarakat percaya di sini ada makam tokoh penyebar agama Islam,’’ kata Kasi Pelayanan Pemerintah Desa Mentoro Slamet kemarin (31/3).

Menurut Slamet, warga percaya di TPU tersebut terdapat situs makam Syeh Maulana Magribi, salah sorang penyebar agama Islam di desa setempat. Lokasinya beberapa meter dari komplek saat ini. Namun, berpuluh tahun silam. Makam tersebut tergerus aliran Sungai Grindulu. Sehingga, warga membuat komplek makam baru sembari memindahkan dua batu yang diyakini peninggalan era Kerajaan Majapahit. ‘’Tapi komplek baru tersebut pun saat ini hilang diterjang banjir awal bulan lalu,’’ ungkapnya.

Warga menduga, lokasi makam kini berada di dasar sungai. Lantaran jadi bagian tak terpisahkan dengan Desa Mentoro, warga dan pemerintah desa setempat berencana mecari makam tersebut. Sebab, sebagian besar makam di TPU tersebut sudah dipindah pascatergerus banjir. Selain itu, warga percaya situs tersebut masih ada. Hanya tertutup lumpur. ‘’Ada warga yang bermimpi minta agar dicari. Lokasinya kira-kira utara komplek makam saat ini atau di dasar sungai,’’ tuturnya.

Situs watu lumpang (batu untuk menumbuk padi) pun yang konon merupakan peninggalan zaman Majapahit terancam. Dua batu berukuran setengah meter berbentuk setengah lingkaran tersebut merupakan peninggalan Syeh Maulana Magribi. ‘’Ada dua watu lumpang. Dulu tiga, satunya watu kethu tapi sudah hilang,’’ jelasnya.

Sempat tersirat rencana kedua batu itu bakal dipindah ke Museum Geopark Pacitan. Namun, warga meminta tetap dibiarkan di sekitar makam. Pasalnya, mereka khawatir hal buruk bakal terjadi bila dipindahkan. Pun telah jadi bagian tak terpisahkan dengan Dusun Duduhan. ‘’Camat juga setuju, akhirnya tidak jadi dipindah,’’ paparnya.

Slamet berharap ada normalisasi Sungai Grindulu di desanya. Selain menjaga sisa situs. Warga waswas, gerusan sungai bakal mencapai tanggul. Pasalnya, kini jarak bibir sungai tak lebih dari 10 meter dari tanggul. Apalagi, setiap kali banjir, tanahnya kian tergerus aliran sungai. (gen/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here