Magetan

Akhir Riwayat Stasiun Barat

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Bangunan lama Stasiun Barat segera dirobohkan. Terdampak double track, yang semula hanya dua jalur bakal ditambah menjadi empat jalur. ‘’Dalam waktu dekat segera dirobohkan,’’ kata Kasi Prasarana Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Bagian Timur Prayitno.

Banyak pertimbangan untuk memutuskan langkah pembongkaran ini. Secara teknis, bangunan lama yang terkena pembangunan rel jalur satu. Namun, jarak antar-rel tak bisa diminimalkan. Sehingga kelak perlu didirikan bangunan baru sebagai pengganti bagian yang tergusur. ‘’Demi keamanan perjalanan kereta,’’ ujarnya.

Prayitno memperkirakan perobohan dilakukan sebelum switch over kedua, November mendatang. Pasalnya, semua kereta sudah tidak dibatasi lagi kecepatannya. Ketika semua moda harus kembali pada kecepatan prima, relnya pun harus berfungsi dengan baik. ‘’(Pembongkaran) sesegera mungkin. Sekarang tinggal menyelesaikan relnya saja,’’ ungkap Prayitno.

Kini, stasiun tak dioperasikan lagi. Seluruh aktivitas telah dipindahkan ke bangunan baru. Baik pembelilan tiket, ruang tunggu, maupun naik dan turun penumpang. Semua dipusatkan di bagian selatan stasiun lama. Namun, sarana lain seperti jalan masuk menuju stasiun baru masih belum diperbarui. ‘’Mungkin ada pro kontra. Tapi, ini sudah diperhitungkan matang. Keputusannya sudah final,’’ katanya.

Terpisah, Camat Barat Yok Sujarwadi tak bisa berkomentar banyak terkait penggusuran Stasiun Barat. Sebab, bangunan itu bukan bagian dari aset pemkab maupun pemdes. Hanya, penggusuran disayangkan karena stasiun lama memiliki nilai sejarah. Lantaran sempat dijadikan stasiun kereta barang di masa kolonial Belanda. ‘’Saya yakin keputusan itu telah didasarkan banyak pertimbangan,’’ tandasnya. (fat/c1/fin)

Kurang Waspada, Pengendara Nyaris Tersambar Kereta

JALUR ganda membuat interval perjalanan kereta semakin sering. Dobel jalur yang kini terpasang memungkinkan dua kereta melintas bersamaan. Kewaspadaan pengguna jalan sekitar rel kereta api harus lebih ditingkatkan. Sebab, tak semua perlintasan itu berpalang pintu. ‘’Kalau di sini hanya ada EWS (early warning system, Red) saja,’’ kata Suwaji, warga Jonggrang, Barat, Magetan.

Namun, alarm yang telah dipasang lama itu belum dapat menjadi peringatan secara maksimal bagi pengguna jalan. Perlintasan sebidang dengan EWS itu berada di dua dusun di Desa Jonggrang. Namun, jalannya alternatif menuju Kecamatan Kartoharjo. ‘’Jalannya ramai pada jam tertentu. Sempat kemarin ada yang hampir tertabrak kereta karena kurang waspada,’’ ujarnya.

Celaka itu hampir terjadi seusai kereta pertama lewat di salah satu jalur. Saat antrean pengendara melanjutkan perjalanan, muncul kereta kedua dari jalur satunya. Beruntung, kereta kedua itu sudah terlihat dari jauh sehingga pengendara bisa lekas ambil jarak. ‘’Perlintasan di desa ini tidak ada penjaganya,’’ tuturnya berharap perlintasan segera dipasangi palang pintu.

Kadishub Magetan Joko Trihono mengaku sudah menerima permintaan palang pintu di sejumlah perlintasan kereta api. Namun, usulan warga itu tak lekas dikabulkan lantaran butuh kajian matang dan biaya. ‘’Mungkin nanti ada beberapa saja yang diberi palang pintu,’’ katanya.

Untuk petugas penjagaannya, pihaknya akan mencari sukarelawan. Sebelum diterjunkan, bakal diberi pembinaan agar dapat menjalankan tugas sesuai harapan. Pun, perjalanan kereta api tidak terganggu dan pengguna jalan di sekitarnya merasa aman. (fat/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close