Cokroaminoto dan Hasyim Asy’ari Resmi Jadi Nama Jalan Protokol

36
ASLI PONOROGO: Penamaan Jalan Soekarno Hatta selatan resmi diganti HOS Cokroaminoto sejak Rabu (10/7).

H.O.S. Cokroaminoto dan KH Hasyim Asy’ari resmi diabadikan menjadi nama jalan protokol. Kedua guru bangsa itu memiliki tempat penting di hati warga Ponorogo. Butuh waktu lama hingga mendapat ruang penghargaan dari daerah.

……….

PEDAGANG pohong keju di pertigaan Ngepos itu baru tahu jika papan penunjuk jalan di dekatnya sudah berganti nama. Jalan Soekarno Hatta tak lagi meruas dua di utara dan selatan. Papan nama yang terpasang tak jauh dari gerobak pohong keju itu resmi berganti H.O.S. Cokroaminoto. Mulai perempatan eks Pasar Legi (patung Adipura) hingga pertigaan Ngepos.

Sudah lama keheranan menghinggapi benak warga. Lantaran selama ini tak menemukan satu pun penggal jalan yang diberi nama H.O.S. Cokroaminoto. Padahal, pahlawan nasional itu seorang Ponoragan tulen. Lahir dan tinggal beberapa tahun di Bumi Reyog. Sudah lama pula, Bupati Ipong Muchlissoni menerima usulan dari masyarakat yang menginginkan ada nama pahlawan nasional itu di Ponorogo. ‘’Daerah-daerah lain memberi penghargaan tinggi kepada H.O.S. Cokroaminoto. Tapi, di Ponorogo tidak ada,’’ ungkap Ipong.

Bupati benar. Di banyak daerah, acap ditemukan nama H.O.S. Cokroaminoto menjadi nama ruas jalan protokol. Bahkan, nama salah satu pendiri negara ini sampai dijadikan merek dari produk kuliner yang cukup terkenal di daerah tetangga. ‘’H.O.S. Cokroaminoto ini perintis dan menjadi salah satu pendiri negara ini. Bahkan putra Ponorogo. Sudah sepatutnya ada penghargaan yang layak,’’ tuturnya.

Selain H.O.S. Cokroaminoto, nama KH Hasyim Asy’ari juga diapresiasi. Sejak lama pula, nama pendiri Nadhlatul Ulama (NU) itu masuk dalam pengusulan. Lantaran banyaknya warga nahdliyin di Bumi Reyog. Pertimbangan lainnya, nama KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) sudah ada terlebih dahulu. Sudah lama pula, bupati mengangankan di ruas jalan mana yang diganti nama KH Hasyim Asy’ari. ‘’Perjuangan beliau dalam pergerakan nasional sangat penting. Sebagai pendiri organisasi NU. Maka, tepat jika diabadikan di jalan dekat masjid kita ini (Masjid Agung RMAA Tjokronegoro, Red),” terangnya.

Medio 2016, titah dari bupati resmi diterima dinas perhubungan (dishub). Organisasi perangkat daerah (OPD) yang dikepalai Djunaedi itu telah diminta melakukan kajian. ‘’H.O.S. Cokroaminoto sempat tinggal di Jalan Soekarno Hatta, sekitaran SMPN 1,’’ tegasnya.

Kepala Dishub Ponorogo Djunaedi pun seperti mendapatkan solusi konkret saat dititah bupati tiga tahun lalu. Tak sebatas apresiasi, kebijakan pergantian nama itu menjadi solusi pemangkasan kewilayahan Jalan Soekarno Hatta yang terlampau panjang. Telaah dishub memakan waktu sampai dua tahun lantaran usulannya sempat terkatung di DPRD. Mengapa? ‘’Perubahan nama jalan butuh persetujuan dewan,’’ kata Djunaedi.

Kajian perubahan nama jalan itu pun nyantol setidaknya sampai awal tahun lalu. Ketika Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) 2020 tingkat kabupaten Maret lalu, wacana lama ini mengemuka kembali. Dewan pun akhirnya menyetujui. Awal Juli ini, Ipong langsung memerintahkan penyusunan surat keputusan penggantian nama jalan. Jumat (5/7), SK bernomor 188.45/2012/405.22/2019 resmi diterbitkan. Judul SK, Lokasi Penetapan Nama Jalan H.O.S. Cokroaminoto dan Jalan Kyai Haji Hasyim Asy’ari sebagai Nama Jalan Dalam Kota Ponorogo. ‘’Begitu SK turun, langsung kami lakukan penggantian papan nama jalan,’’ ujar Djunaedi.

Apakah ada banyak penyesuaian? Djunaedi meminta warga tak khawatir. Untuk data dokumen seperti alamat, yang terbit sebelum SK perubahan ini terbit, dijamin masih tetap berlaku. ‘’Kecuali ingin melakukan penggantian di dokumen, atau pencatatannya setelah SK bupati terbit, ya harus menyesuaikan,” tuturnya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here