Madiun

AKHIR NIAGA GENERASI KETIGA

‘’Penyematan gelar berhenti sampai generasi kedua. Tjan Soen Djien-Tan Giok Bwee (generasi ketiga) tidak memiliki gelar. Bisnis minyak juga berhenti di generasi ketiga.’’ JOKO PRIYANTO, keturunan ke empat Tjan Boen Pin

Kecapi Batara Menelusuri Jejak Etnis Tionghoa (1)

Tiga abad silam, rumah di penggal Jalan H Agus Salim, Kota Madiun, itu didirikan. Memantik perhatian Kelompok Pencinta dan Pemerhati Budaya Nusantara (Kecapi Batara). Rumah Tjan Boen Pin menjadi titik awal penelusuran lokakarya sejarah tiga kota di Jawa Timur.

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SEJARAH panjang terbentang di balik gerbang rumah tua bernomor 93 itu. Sebaris tulisan berhuruf kanji tua terpampang. Tak ada yang bisa mengeja tulisan yang tertera di gerbang berukuran 2,5×3 meter itu. Termasuk generasi keempat yang menghuni rumah marga Tjan itu.

Keaslian tekstur pintu di rumah itu terus mengalami cobaan. Terutama dari ulah tangan-tangan jahil vandalisme. ‘’Selalu ada yang mencoret. Sudah berapa kali saya cat ulang. Akhirnya saya biarkan,’’ kata Joko Priyanto, penghuni rumah.

Rumah itu didirikan Tjan Boen Pin dan Sie Ai Nio. Selepas pasutri ini hijrah dari Republik Rakyat Tiongkok (RTT) sekitar abad 18 silam. Di Kota Madiun, Tjan Boen Pin merintis bisnis minyak. Dia pun memiliki pangkalan minyak di Ngawi dan menyuplai kebutuhan se-Madiun Raya. ‘’Tinggalnya di sini,’’ ujarnya.

Bangunan itu masih lestari berdiri kokoh hingga kini. Atap gerbang masih berbentuk melengkung khas bangunan Tionghoa. Pengancing gerbang berbentuk selorokan dari dua kayu yang menempel di masing-masing pintu. Dijaga dua patung singa yang berjarak lima meter dekatnya. ‘’Itu sebutannya shi. Patung selamat datang,’’ tutur Joko.

Shi betina berdiri di sisi kiri. Jenis kelaminnya ditandai dengan keberadaan anak shi di kakinya. Shi jantan berdiri tegak di bagian kanan dengan bola di kakinya. Pohon lenci tegak berdiri di halaman, tak jauh dari kedua simbol hewan penyalak itu. Konon, buahnya menjadi camilan bagi kaisar kerajaan. ‘’Berbuah tiap enam bulan sekali. Direbus lalu dikasih garam. Rasanya seperti biji nangka,’’ terangnya.

Atap rumah itu melengkung. Khas arsitektur daratan Tiongkok selatan. Rumah dengan atap bergaya ekor walet itu menegaskan strata sosial. Rumah itu hanya dihuni kalangan pejabat. Beda dengan rakyat jelata yang atap rumahnya berbentuk pelana kuda. ‘’Kakek buyut saya sebenarnya warga sipil biasa,’’ katanya.

Putaran roda bisnis yang dijalankan membuat Tjan Boen Pien cukup dihormati. Bahkan, sempat diberi gelar mayor oleh pemerintah kolonial Belanda. Tjan Eng Boo-Lie Hwat Kiem, generasi keduanya, juga sempat bersemat gelar kapten. ‘’Penyematan gelar berhenti sampai generasi kedua. Tjan Soen Djien-Tan Giok Bwee (generasi ketiga) tidak memiliki gelar. Bisnis minyak juga berhenti di generasi ketiga,’’ urai Joko.

Rumah seukuran 30×60 meter itu dibangun di atas lahan 5.000 meter persegi. Terbagi menjadi empat bagian. Pendapa berukuran 30×15 meter menjadi bagian pertama. Untuk menerima dan menjamu tamu. Bagian dalam atapnya berupa elemen struktural terbuka khas Tionghoa. Disangga toukung (penyangga atap) dan kuda-kuda ukiran. Plafon kayunya pun masih awet sampai kini. Aneka warna hijau, biru, abu-abu di bagian atap itu perlambang kebahagiaan, kesejahteraan, dan hal-hal baik lainnya. ‘’Belum pernah dirombak sama sekali. Hanya sekali dicat waktu zaman ayah saya dulu,’’ jelasnya.

Bagian kedua berupa ruang terbuka yang cukup luas. Di masa lalu, ruang yang pintunya juga bertuliskan huruf kanji tua itu difungsikan untuk pertemuan dan berlatih kungfu. ‘’Di ruang ini, sirkulasi udaranya sangat bagus. Selalu terasa adem, meski di luar panas,’’ ujarnya.

Bagian ketiga merupakan ruang berlantai tiga. Lantai pertama terdiri ruang keluarga dengan empat kamar. Jarang ada tamu yang bisa masuk, meski hanya sampai lantai pertama. Sedangkan lantai dua dikhususkan menyimpan perabotan. Di lantai dua juga terdapat teras yang digunakan menyimpan pusaka. Sementara lantai tiga berupa ruang tanpa sekat yang sengaja dikosongkan. ‘’Ruangan ini khusus untuk keluarga,’’ tuturnya.

Bagian keempat yakni teras atau pendapa belakang. Struktur bangunan dan bentuknya nyaris sama dengan bagian teras depan. Hanya, lebih kecil. Untuk santai keluarga dan menikmati hijaunya kebun di belakang rumah. Kamar mandi terletak di dekat kebun, terpisah beberapa meter dengan teras belakang. Seluruh bagian rumah itu berlantai tegel dengan gambar corak dan warna khas Tionghoa. Lantai itu juga tidak pernah diubah sejak kali pertama dibangun. ‘’Hanya ada beberapa bagian yang ditambahkan. Tapi, tidak mengubah keaslian bangunan,’’ papar Joko.

Seperti bangunan baru di depan setelah gerbang. Bangunannya terpisah dengan rumah utama. Sehari-harinya, Joko dan istrinya cukup kewalahan merawat. ‘’Rumah ini hanya saya tinggali dengan istri. Tiga anak saya sudah berkeluarga dan yang dua kuliah di luar kota. Ramainya saat Imlek saja. Keluarga kumpul dan bernostalgia,’’ ucapnya. *** (c1/fin)

Melacak Sebaran Sub-etnis Hokkian

MIRIS. Lima puluh persen dari ribuan bangunan lama Tionghoa yang tersebar di Jawa dan Jambi tidak terawat dengan baik. Kondisi itu merupakan catatan hasil identifikasi Kelompok Pencinta dan Pemerhati Budaya Nusantara (Kecapi Batara). Kamis (14/11) komunitas pelestari sejarah yang bermarkas di Jakarta itu mengawali lokakarya tiga kota di Jawa Timur dari Kota Madiun. ‘’Kami pilih Kota Madiun, Pasuruan, dan Sumenep,’’ kata Ketua Kecapi Batara Diyah Wara saat lokakarya pelestarian bangunan lama Tionghoa di Kota Madiun Kamis (14/11).

Pemilihan kota untuk lokakarya dan penelusuran bukan tanpa alasan. Sebab, ketiga kota itu belum memiliki tim ahli cagar budaya. Padahal, keberadaan tim ahli cukup urgen. Dalam rangka melestarikan bangunan-bangunan bersejarah. ‘’Tidak hanya bangunan lama Tionghoa tentunya, tapi juga bangunan bersejarah lainnya. Tim ahli cagar budaya jugalah yang mendukung teman-teman komunitas di daerah untuk melakukan identifikasi,’’ terangnya.

Tim juga bertugas melakukan penelusuran. Tidak hanya bangunan lama Tionghoa, tapi juga sub-etnis Tionghoa di kota setempat. Meskipun secara umum mayoritas sub-etnis Tionghoa di Jawa adalah sub-etnis Hokkian. Kelompok dari daratan Tiongkok selatan itu menyebar di seluruh Jawa. ‘’Tetap harus dilakukan penelusuran lebih dalam,’’ ujar Diyah.

Karena itu, Kecapi Batara mengadakan lokakarya yang diikuti puluhan pelestari sejarah dari berbagai daerah. Mulai Madiun, Nganjuk, Ngawi, Kediri, hingga berbagai daerah lain di Jatim. Untuk mengidentifikasi dan melakukan penelusuran bangunan lama Tionghoa di Kota Madiun. ‘’Apakah terawat dengan baik atau tidak,’’ ucapnya.

Menurut Diyah, banyak faktor yang menyebabkan bangunan lama rusak. Mulai pemilik belum mengetahui cara merawat, kurangnya perhatian pemerintah daerah, hingga kerusakan akibat bencana alam. ‘’Bangunan lama Tionghoa itu juga memiliki pengertian dan syarat tersendiri,’’ tuturnya.

Yang dimaksud bangunan lama Tionghoa adalah bangunan yang dibangun atau dimiliki orang Tionghoa. Memiliki unsur pengaruh dari budaya Tionghoa, serta berusia lebih dari 50 tahun. ‘’Memiliki berbagai gaya. Mulai gaya Tiongkok selatan hingga rumah pejabat Tionghoa (Mayor, Kapitan, Letnan),’’ paparnya.

Sehingga keberadaan bangunan lama Tionghoa perlu dilestarikan. Pun tertali simpul dengan sejarah masuknya etnis Tionghoa ke Indonesia yang terjadi dalam beberapa gelombang. Diyah menjelaskan, catatan sejarah menunjukkan bahwa saat pedagang Belanda masuk ke Batavia (Jakarta) menemukan perkampungan etnis Tionghoa. Jauh sebelum abad ke-14, mereka mulai masuk melalui pintu perdagangan. Kemudian membaur dengan masyarakat pribumi. Akulturasi budaya. (kid/c1/fin) 

Tiap Kota Punya Cerita

‘’Tak hanya mengidentifikasi, tapi juga merekomendasi.’’ Diyah Wara menjelaskan maksud kehadiran Kecapi Batara saat diskusi di aula pertemuan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun.

Namun, rekomendasi ditindaklanjuti pemangku kebijakan ibarat menanak nasi tanpa air. Meski langkah Kecapi Batara untuk terus menelusuri fakta sejarah di berbagai daerah tidak melemah. Kelompok ini berdiri di Jakarta 2013 silam. Diprakarsai delapan orang dari berbagai latar belakang suku bangsa, pendidikan, dan pekerjaan. ‘’Karena kalau cara merawatnya salah, malah merusak bangunan itu sendiri,’’ ujarnya.

Awalnya, kelompok ini fokus pada budaya Tionghoa. Hingga kini mereka telah melalangbuana ke berbagai daerah di Jawa dan Jambi. Rekomendasi juga ditujukan ke perusahaan swasta. Hasil identifikasi Masjid Langgar Tinggi di Pekojan, Jakarta, misalnya. Mendapatkan dukungan penuh dana konservasi dari corporate social responsibility (CSR). ‘’Sampai saat ini masih konservasi. Kami lakukan identifikasi sekitar 2017 lalu,’’ ungkap perempuan kelahiran 1987 itu.

Seiring berjalannya waktu, banyak anggota yang ingin bergabung dalam kelompok ini. Hingga kini tercatat 30-an anggota aktif dari berbagai disiplin ilmu. Dari situ pula Kecapi Batara tidak hanya fokus pada budaya Tionghoa, tapi juga seluruh hal yang terkait budaya dan sejarah. Termasuk budaya masyarakat termarginalkan. ‘’Seperti masyarakat adat di pedalaman atau daerah yang kurang mendapatkan akses untuk ekspresi dan mempromosikan budayanya,’’ sambung Diyah.

Tahun lalu, Kecapi Batara mengajukan usulan identifikasi ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Namun, nihil tanggapan sampai lewat empat bulan. ‘’Malah kami ditanya balik. Fasilitas tempat dan lain-lain nantinya pihak sana yang menanggung? Itu sama saja dengan tidak ada jawaban,’’ tuturnya.

Lantas, Kecapi Batara mencari cara lain agar dapat melakukan identifikasi ke Jawa Timur. Tahun ini, usulannya diterima Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hingga memutuskan untuk memilih tiga kota untuk ditelusuri. Baik Kota Madiun, Pasuruan, maupun Sumenep memiliki ciri khas masing-masing. Kota Madiun memiliki banyak bangunan lama Tionghoa. Sementara di Sumenep, bangunan Tionghoa memiliki ciri khusus lantaran telah terakulturasi dengan Islam. ‘’Ini potensial untuk ditelusuri dan diidentifikasi,’’ katanya.

Bantuan yang didapat dari Kemendikbud belum menjamin langkah ini berjalan mulus. Ratusan kali, Kecapi Batara mendapatkan penolakan dari pemilik bangunan. Meskipun akhirnya mendapatkan izin identifikasi. Saat di Jakarta, dari ratusan bangunan lama, hanya sepuluh bangunan dalam kondisi baik. ‘’Itu nanti kita lihat juga bagaimana hasil identifikasi di kota ini dan dua kota selanjutnya di Jatim,’’ ucapnya sembari menyebut kedatangannya ditemani Gemala Putri, ketua pengurus harian Kecapi Batara. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close