Akali Domisili, Empat Siswa Mengundurkan Diri

22
AKHIRNYA BUKA-BUKAAN: Kepala SMPN 1 Yuli Dwi Astuti, Kabid Pembinaan SMP Dindik Rudi Hantoro, saat RDP Senin (1/7).

PONOROGO – Tak enak hati, empat calon siswa baru di SMPN 1 Ponorogo akhirnya mengundurkan diri. Keempatnya terbukti mengakali sistem zonasi menggunakan surat keterangan domisili palsu. Dua dari empat peserta itu bahkan tinggal dan bersekolah di luar kabupaten. ‘’Bukan dicoret, tapi keempat siswa itu mengundurkan diri,’’ kata Kepala SMPN 1 Yuli Dwi Astuti Senin (1/7).

Yuli mengungkapkan, ada 56 siswa baru yang mendaftar di sekolahnya menggunakan surat keterangan domisili. Empat di antaranya terbukti melanggar aturan. Tiga dari empat siswa itu berasal dari Kota Madiun; Pacitan; dan Kecamatan Mlarak, Ponorogo. Seorang peserta lagi dari mana, Yuli enggan membeberkan. Dalam surat tersebut, diterakan bahwa mereka tinggal di seputaran kawasan SMPN 1.

Walaupun sudah dinyatakan diterima, pihak sekolah akhirnya memanggil dan memeriksa kembali data keempat siswa. Barulah terungkap bahwa surat keterangan domisili mereka asli tapi palsu. Dalam artian, sah dikeluarkan kelurahan, namun tak sesuai fakta tempat tinggal dan sekolah si anak. ‘’Contoh yang dari Pacitan, alamat orang tuanya di Pacitan, SD juga di Pacitan, tapi alamat domisilinya di Ponorogo,’’ ungkap Yuli.

Posisi keempat siswa, lanjut Yuli, akan diisi oleh siswa yang mendaftar dan berada dalam radius zonasi SMPN 1. Diketahui, siswa yang diterima di SMP favorit itu terjauh tinggal di radius 1,75 kilometer dari sekolah. ‘’Kami panggil siswa cadangan yang sesuai urutan. Jadi tidak kekurangan pagu,’’ terangnya.

Terkait polemik data, Yuli menolak jika pihaknya disebut berusaha menutup-nutupi. Dia menyebut hanya mengikuti perintah kepala dinas pendidikan (Tutut Erliena yang pensiun akhir Juni). ‘’Sebagai bawahan, saya ikut saja,’’ klaimnya.

Yuli berharap, seiring berjalannya waktu, mindset masyarakat terhadap SMPN 1 dapat berubah. Mindset orang tua yang terbentuk bahwa SMPN 1 itu favorit. ‘’Sekarang eranya sudah berubah. Kami mengikuti kebijakan pemerintah pusat yang ingin memeratakan mutu pendidikan,’’ ucapnya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here