Ajal Menjemput Tanpa Permisi! Mancing, Tewas Kesetrum

100

NGAWI – Ajal menjemput tanpa permisi. Agung Rohmad Ariyanto, 24, asal Jalan Basuki Rahmad, Margomulyo, Ngawi, tewas saat memancing. Korban meregang nyawa setelah joran pancing yang dibawanya menyenggol kabel listrik bertegangan tinggi. ‘’Kesetrum saat mancing di Waduk Kedungbendo,’’ kata Kapolsek Padas AKP Pujianto Senin (27/5).

Petaka berujung maut yang dialami Agung itu bermula saat korban bersama dua temannya berangkat mancing pada Minggu (26/7). Sesampainya di Waduk Kedungbendo, Agung mencari spot memancing sendiri. Tepatnya di timur jembatan waduk. Seeantara, dua temannya di sebelah barat.

Nahas menghampiri Agung setelah sekitar 30 menit umpan di mata kailnya tak kunjung disambar ikan. Korban berniat pindah tempat menuju dua temannya di barat jembatan. Agung berjalan sembari memanggul joran pancing dan menenteng sejumlah perlengkapan pancing lainnya.

Tak dinyana, ujung joran sepanjang 4,5 meter menyenggol kabel listrik bertegangan tinggi. Agung yang belum sampai ke tempat dua temannya, keburu kena sengatan listrik. ‘’Joran yang dibawa korban berbahan karbon,’’ imbuh Pujianto.

Suara dan percikan yang ditimbulkan dari ujung joran Agung yang menyenggol kabel listrik membuat dua rekannya mencari tahu apa yang terjadi. Tak disangka, korban sudah dalam kondisi terduduk. Agung kala itu masih sempat menjawab pertanyaan dari seorang temannya seputar kondisinya. Namun, tak berselang lama korban terkulai lemas.

Mengetahui hal itu, dua temannya lantas berteriak minta pertolongan. Aparat kepolisian yang mendapat laporan segera mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) bersama petugas medis dari puskesmas setempat. Namun, nyawa Agung tak terselamatkan.

Berdasarkan hasil olah TKP, beberapa barang bukti seperti joran pancing, keterangan sejumlah saksi, serta pemeriksaan medis, Agung dinyatakan tewas murni akibat tersengat listrik tegangan tinggi. ‘’Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Pihak keluarga menolak dilakukan otopsi dan menerima kejadian ini sebagai musibah,’’ pungkas Pujianto. (den/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here