Air untuk Semua

149
Oleh : Drs. Welly Kristanto M.Si. Dirut PDAM Lawu Tirta Magetan

MAGETAN – Menurut teori hidrologi, jumlah air bumi akan selalu sama. Kapan dan di mana kita butuh air selalu tersedia dalam jumlah yang kita inginkan. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. Pada saat tertentu terjadi kelebihan air yang menyebabkan banjir. Pada saat yang lain terjadi kekeringan.

Mengutip ungkapan Pakde Karwo “rendeng ra iso ndodok tigo ra iso cewok”. Pada musim penghujan terjadi banjir sehingga tidak bisa duduk jongkok. Pada musim kemarau terjadi kekeringan, tidak bisa cebok.

Jumlah air memang sama dalam sepanjang tahun. Namun, karena siklus hidrologi alam kita sudah tidak seimbang, sehingga fluktuasi ada dan tidaknya air menjadi bencana. Sebagaimana yang terjadi dalam minggu ini di Jogja, Sentani, dan beberapa minggu kemarin di Desa Ngelang, Kartoharjo, Ponorogo, Ngawi, dan Madiun.

Jika menurut teori hidrologi jumlah air di bumi ini akan selalu sama, di kuadran lain jumlah manusia selaku pengguna di bumi terus bertambah. Begitu juga dengan tingkat kebutuhan air. Seiring dengan transformasi kultural meningkatnya kesejahteraan akan mengubah gaya hidup manusia terhadap konsumsi air. Maka, air yang jumlahnya akan selalu tetap sama itu harus dijaga keberadaannya di sepanjang tahun secara efisien.

Untuk menyelesaikan banjir dan kekeringan, menurut ahli hidrologi ditempuh dengan dua cara, yakni teknis dan vegetatif. Teknis, yaitu dengan memperbaiki morfologi (badan dan bentuk aliran) sungai dengan membangun tanggul, cek dam, embung, bendung, dan waduk di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang variabel masalahnya kompleks.

Karena DAS melampaui otonomi daerah administratif wilayah kabupaten dan provinsi. DAS Bengawan Solo meliputi Jateng dan Jatim. Mulai  dari Solo, Wonogiri, Madiun, Ngawi, hingga Tuban, Lamongan. Maka, kebijakan pengamanan dan penanganan tata ruang serta morfologi sungai harus sinkron antara Ganjar Pranowo di hulu dengan Khofifah di hilir.

Selain variabel infrastruktur juga terdapat variabel demografi dan kultur masyarakat di sekitar DAS yang biaya infrastrukturnya cukup mahal. Belum lagi terkait dengan pengamanan tata ruang vegetatifnya.

Secara vegetatif, perubahan alih fungsi hutan untuk infrastruktur dan permukiman akan memengaruhi ruang terbuka untuk resapan air hujan. Pada hulu, hutan lindung bergeser menjadi lahan produktif, hortikultura, dan wisata. Pada hilir, lahan pertanian menjadi pemukiman, industri, dan infrastruktur.

Tata guna lahan dan air harus benar-benar dijaga keseimbangannya dengan konsisten. Pengelolaan dan penanganan hutan dan daerah aliran sungai tidak bisa menjadi  otonomi daerah administratif.

Maka, yang harus dilakukan adalah efisiensi penggunaan air. Pada bidang pertanian dengan teknologi pipanisasi sprinkler utamanya untuk hortikultura pada lahan yang kemiringannya tinggi. Termasuk mengatur pola tanam dengan menyesuaikan ketersediaan air.

Penyediaan air baku air bersih dan air minum dengan teknologi mekanikal elektrikal hingga digitalisasi teknologi, ada manajemen tekanan, deteksi dini, dan penanganan cepat kebocoran untuk menekan pemborosan serta kehilangan air. Pada bidang sanitasi, pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR banyak program sanitasi mandiri sebagai upaya transformasi kultural agar masyarakat hidup sehat dan hemat air.

Semua itu dilakukan untuk menjaga supaya air tetap ada untuk semua hingga anak cucu kita. Sebagaimana tema hari air sedunia tahun ini Leaving No One Behind. Artinya,  tidak ada satu pun kalangan yang tidak mendapat akses air bersih. Ini juga merupakan agenda besar Sustainable Development Goal 6 (SDG 6), yaitu menargetkan ketersediaan dan keberlanjutan terhadap penggunaan air untuk semua kalangan pada tahun 2030. Artinya, tak akan ada lagi orang yang tidak dapat mengonsumsi air bersih. “Dirgahayu Hari Air sedunia”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here