Air Bengawan Solo Tercemar Limbah Pabrik Tekstil

66

NGAWI – Setelah sebulan lebih tanpa action, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ngawi mengecek kondisi air Bengawan Solo yang diduga tercemar limbah pabrik tekstil. Alasannya, karena tidak ada laporan resmi dari masyarakat. ‘’Tapi kami berinisiatif melakukan uji laboratorium untuk mengetahui kondisi sebenarnya,’’ kata Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Ngawi Suharno kemarin (7/8).

Hal itu disampaikan Suharno usai mengambil sampel air sungai di sekitar Jembatan Watualang, Ngawi. Sebenarnya, kondisi ini sudah viral di media sosial. Tidak hanya di Ngawi, tapi juga daerah lain yang dilintasi sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut. Air sungai yang diduga tercemar limbah itu menyebabkan banyak ikan mati dan bau tidak sedap. ‘’Airnya memang begitu gelap,’’ imbuh Suharno.

Suharno belum berani menyebut air sungai yang hitam pekat dan berbau itu karena tercemar limbah. Dia baru bisa menjelaskan dari hasil uji laboratorium sekitar sebulan ke depan. ‘’Apa kandungan sebenarnya, berbahaya atau tidak, baru diketahui setelah hasilnya keluar,’’ terangnya.

Jika positif tercemar limbah, pihaknya akan berkirim surat ke DLH Provinsi Jatim. Sebab, aliran Bengawan Solo lintas provinsi (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Kendati masih harus menunggu hasil uji laboratorium, secara kasatmata Suharno tidak membantah air sungai ini tercemar limbah pabrik tekstil. ‘’Dugaan sementara seperti itu,’’ ungkapnya.

Salah seorang petugas Laboratorium DLH Provinsi Jatim Rifki Fauzan Ahmadi juga menduga hal serupa. Menurut dia, kondisi air Bengawan Solo, khususnya di wilayah Ngawi, tercemar limbah tekstil. Namun, tidak ada perusahaan besar di wilayah Ngawi terutama di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. ‘’Kemungkinan berasal dari luar daerah Ngawi,’’ duganya.

Rifki menjelaskan, hasil pemeriksaan sementara jika dilihat dari tingkat keasaman (pH), suhu, maupun dissolved oxygen (penguraian oksigen dalam air) atau DO, semua masih normal. Namun, bukan berarti tidak tercemar limbah. Sebab, perlu diketahui kandungan lain. Misalnya logam, NH3, SS, dan zat kimia lain. ‘’Ini baru ambil sampel dan pemeriksaan sementara. Hasil lebih detail masih menunggu dari laboratorium,’’ paparnya.

Dari pemeriksaan sementara, kemarin pH air sekitar 7,9 dari ambang batas normal antara 6-9. Sedangkan temperatur air menunjukkan angka 26 derajat Celsius dan DO-nya 2.0. Sehingga, menurut Rifki, masih normal. ‘’Tapi, tetap harus menunggu analisis lebih lanjut melalui uji laboratorium di Surabaya nanti,’’ jelasnya.

Suriman, salah seorang warga sekitar, menyebut sudah lebih sebulan kondisi air Bengawan Solo seperti itu. Warga di bantaran sungai mengeluhkan bau tak sedap. Pun tidak berani memanfaatkan untuk minuman ternaknya. ‘’Ikan saja mati, kalau dikasihkan ke ternak nanti takutnya mati juga,’’ tuturnya.

Warga juga tidak berani lagi mandi di sungai lantaran khawatir berdampak buruk. Warga Desa Kalang, Kecamatan Pitu, tersebut juga mempertanyakan sikap pemerintah yang terkesan kurang responsif. Sebab, kondisi itu sudah lebih dari sebulan. Tapi, tidak ada reaksi untuk mengatasinya. ‘’Di daerah lain, begitu ada kondisi seperti ini masyarakat langsung unjuk rasa dan ditangani,’’ ungkapnya.

Kendati diam, lanjut Suriman, sebenarnya masyarakat sangat tersiksa. Sebab, tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga, mereka hanya pasrah bongkokan. Namun, warga tetap berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Sehingga, kondisi sungai kembali normal dan bermanfaat. ‘’Kami tidak tahu harus bagaimana,’’ ucapnya. (tif/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here