Agus tanpa Beban, Suwadi Kalah Power

146

MAGETANCyclist Ratjoen Agus Hariyanto akhirnya menyabet predikat King of Mountain (KOM) kategori lokal road bike upper 40. Pria asal Kota Madiun itu berhasil meraih podium dengan catatan waktu 34 menit 56 detik di event Karismatik Cycling Community Sabtu lalu (9/3). Capaian waktunya justru bersaing dengan kategori open road bike upper 40. ’’Kuncinya itu tidak ada beban ketika race,’’ kata Agus kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Turun di kelas lokal road bike upper 40, Agus harus bersaing dengan sejumlah cyclist yang tangguh. Seperti Suwadi Haliman (IPSM), Suyadi (PCC), dan lainnya. Namun, Agus berhasil finis cukup jauh dengan para pesaingnya. Selisihnya sampai 8 menit. Suwadi Haliman yang finis di peringkat kedua dengan catatan waktunya 42 menit 39 detik. Sedangkan, Suyadi, peraih podium ketiga, raihan waktunya 44 menit 57 detik. Cyclist BRB Triono berada di posisi keempat dengan waktu 50 menit 52 detik, serta Widodo (W2RB) 51 menit 55 detik. ’’Gap memang lumayan jauh, karena saya berada dekat dengan rombongan kelas open,’’ ujarnya.

Lantas apa kunci keberhasilan? Agus mengatakan, agar bisa sukses harus rajin latihan. Dia dulu mendapat masukan dari Juwanto Reza, peraih KOM kelas open road bike upper 40. Agus diarahkan untuk berlatih RPM. ’’Biasanya kita kenal dengan sebutan ngecek, kalau sebelumnya saya cenderung mengandalkan power,’’ jelasnya.

Namun, dia merasakan manfaat dari latihan ngecek. Agus mengaku justru semakin tangguh di tanjakan. Terlebih ketika melibas rute datar. ’’Jadi, kayuhan akan teratur dan bagus,’’ tuturnya.

Sementara, Suwadi Haliman, cyclist IPSM yang meraih podium kedua, mengaku tertinggal jauh dari Agus Hariyanto. Dia merasakan power Agus lebih unggul dibanding dirinya. ’’Power dan putaran kakinya lebih bagus,’’ ucapnya.

Dia menambahkan, panjang KOM yang mencapai 9,4 kilometer memang cukup menguras tenaga. Kondisi itu justru membuat cyclist luar daerah keteteran. Apalagi langsung power setelah start KOM. Kebanyakan langsung melambat ketika sampai di tanjakan PLN. Belum lagi ketika masuk di tanjakan Ngerong. Semakin banyak tercecer ketika masuk di kawasan Telaga Wahyu. ’’Sudah banyak yang ampun-ampun, mungkin jarang ke Sarangan, jadi tidak tahu beratnya tanjakan menuju Sarangan,’’ jelas pria kelahiran Desa Tanjung, Kecamatan Bendo, Magetan, tersebut.

Sementara, Suyadi mengaku sengaja tidak ngoyo ketika menanjak. Dia berusaha menjaga ritme kayuhan. Sebab, dua cyclist lain, yakni Agus Hariyanto dan Suwadi, sudah berada di depan.’’Kecepatannya 8 sampai 9 saja, tidak ngoyo. Kalau saya paksakan malah akan jatuh,’’ terangnya.

Suyadi mengaku latihannya memang sedikit kurang sebelum event KCC 2019. Dia mematok target untuk lebih dulu menurunkan berat badan. Ini agar enteng di tanjakan. Hitungannya, harus bersepeda sejauh 2 ribu kilometer selama sebulan agar berat badan turun 5 kilogram. Namun, karena sering turun hujan, jadwal latihan kacau. ’’Seharusnya enteng nanjak beratnya 55 kilogram, sekarang saya 62 kilogram,’’ ujarnya tertawa.

Lantas bagaimana agar tidak keram? Suyadi mengatakan, banyak peserta KCC 2019 mengalami keram. Menurut pendapat pribadinya, bersepeda menanjak dan datar itu berbeda. Kalau datar, putaran kakinya cenderung hanya menekan, tapi tidak terlalu kuat dan lama. Berbeda ketika di tanjakan, nekat kuat dan otot pasti tidak mampu. Agar tidak menekan kuat di tanjakan, sadel sepeda naik 1 sentimeter. ’’Kaki kalau nanjak kan nekan dan narik, jadi akan kerja sama,’’ pungkasnya. (ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here