Agus Budhiarto, PNS Pemkot yang Juga Perajin Limbah Kayu

70

Kreativitas Agus Budhiarto pantas diacungi jempol. PNS Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Madiun itu sukses meraup pundi-pundi rupiah dari kerajinan berbahan limbah kayu.

———————–

TUMPUKAN limbah kayu tampak di sudut sebuah toko di Jalan Pucangrejo. Limbah beragam ukuran tersebut merupakan bahan utama pembuatan  pohon imitasi untuk hiasan interior rumah. ‘’Ini replika, yang asli hanya batang pohonnya,’’ kata Agus Budhiarto sambil melirik dedaunan warna putih mirip sakura.

Agus mulai berkutat dengan kerajinan pohon imitasi sejak pertengahan tahun lalu. Berawal saat pria 51 tahun itu melihat setumpuk limbah kayu di tempat pembuangan sampah dekat rumahnya. ‘’Daripada nggak terpakai, saya kepikiran untuk dibikin kerajinan tangan,’’ ujarnya.

Dari situlah Agus lantas berselancar di dunia maya berburu referensi. Produk pertama yang dibuat adalah pot bunga dari plastik. ‘’Bikin pertama masih kecil-kecil, tingginya sekitar 45 sentimeter,’’ kenangnya.

Selanjutnya, bunga tersebut sengaja dia letakkan di kantor Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Madiun. Persisnya di ruang tamu kantor tempatnya bertugas sehari-hari itu. ‘’Saya jual Rp 100 ribu, ternyata ada teman sekantor yang tertarik beli,’’ imbuhnya.

Lantaran semakin banyak yang pesan, Agus berupaya memperbaiki kualitas produknya. Dari yang semula menggunakan pot plastik lalu berganti ke bahan kayu. ‘’Pot saya ambilnya dari Mojokerto, tapi masih dihias dan modifikasi lagi. Sekali beli bisa sampai 50 biji,’’ bebernya.

Sedangkan dedaunannya sejatinya bisa ditemukan di sejumlah pasar Kota Madiun. Namun, Agus biasa membeli ke sebuah pasar di Solo lantaran harganya lebih miring. ‘’Di Madiun per lusin ada yang sampai Rp 165 ribu,’’ ungkapnya sembari menyebut limbah kayu biasanya didapat dari wilayah pinggiran Kota Madiun.

Tidak sembarang limbah kayu yang bisa dimanfaatkan. Dia memilih kayu yang masih basah. Juga bersih dari rayap. ‘’Kalau kayunya kering mudah patah. Jika ada hewannya kesannya kotor dan sulit dibersihkan,” ujarnya.

Sejauh ini produk kayu hiasnya telah merambah pasar hingga Solo dan Jogjakarta. Harganya bervariasi, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Paling mahal yang pernah dia buat menyentuh angka Rp 1 juta. ‘’Semakin besar pohonnya semakin mahal karena daun dan cat pelitur yang dipakai lebih banyak,’’ jelasnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here