Aedes Aegypti Renggut Nyawa Penderita ke Sembilan

137

Orang tua mana yang tidak nelangsa ditinggal buah hati untuk selama-lamanya. Kesedihan itu tengah dirasakan Agung Sutomo dan Ucik Nurifirasari saat harus merelakan kepergian Meisya Anindya Firagung Putri. Putri semata wayangnya yang tutup usia karena demam berdarah dengue (DBD).

————–

SUASANA berkabung langsung terasa saat memasuki gang menuju rumah Agung Sutomo dan Ucik Nurifirasari. Bendera putih tegak berdiri di depan rumah di Desa Josari, Jetis, tersebut. Terop terpasang dikhususkan untuk pelayat. Mujihartono, paman Meisha, menyambut kedatangan koran ini. Sementara Agung Sutomo dan Ucik Nurifirasari yang berada di ruang tengah masih terlihat syok.

Mujihartono tidak menyangka keponakan tersayangnya bakal menjadi korban nyamuk yang saat ini menjadi pembunuh nomor satu di Bumi Reyog tersebut. Sebab, sejak menderita demam, Meisya langsung mendapat kontak medis. Dari situlah Meisya yang semula selalu menjadi hiburan bagi keluarga terlihat murung. Tidak jarang menangis lantaran tidak nyaman dengan kondisi badannya. ‘’Awalnya panas, kami periksakan ke bidan. Setelah mendapat obat, rupanya belum ada perubahan. Lantas dibawa ke dokter,’’ kata Mujihartono.

Di usianya yang masih belia, Meisya tutup usia. Bocah lima tahun yang sedang lucu-lucunya itu menderita demam berdarah dengue (DBD). Dia menjadi penderita ke sembilan yang nyawanya terenggut serangan virus dengue. Awalnya dia hanya merasakan demam, Selasa sore (29/1). ‘’Dia sempat bilang kalau tidak kuat. Langsung kami bawa ke puskesmas,’’ ujarnya.

Setelah mendapat rawat jalan, keadaan Meisya tidak berangsur membaik. Badannya yang demam dan lemas membuatnya hanya bisa menangis. Dia pun sering muntah saat makan. Sehingga kondisi itu membuat keluarga lebih panik. Berselang sehari, Meisya dibawa ke dokter anak. Namun, panas badannya hanya turun sementara. Tidak ingin terlambat, keluarga membawa Meisya ke RSU Aisyiyah, Jumat sore (1/2). Setelah dilakukan uji laboratorium, rumah sakit menyatakan trombosit Meisya berada di 85 ribu/milimeter kubik. ‘’Dari pemeriksaan laboratorium itu kami diberi tahu bahwa Meisya terkena demam berdarah,’’ ungkap Mujihartono.

Setelah dirawat di kamar inap, keadaan Meisya berangsur membaik. Keluarga yang sempat khawatir mulai lega. Apalagi saat itu nafsu makannya berangsur pulih. Hingga Minggu pagi (3/2), keadaan Meisya berangsur membaik. Raut mukanya terlihat ceria. Tubuhnya yang semula lemas kembali aktif layaknya bocah seumurannya. Namun, jarum infus di tangannya masih membelenggu. ‘’Minggu pagi kulitnya terlihat putih, beda dari biasanya. Tapi anaknya sudah mulai membaik. Itu sempat membuat kami lega,’’ tuturnya.

Keluarga tidak mengira bahwa kondisi yang dialami Meisya sebenarnya tahap paling kritis. Karena itulah keluarga kaget bukan kepalang saat tiba-tiba kondisi Meisya drop pukul 14.00. Badannya benar-benar tidak berdaya dan tidak sadarkan diri. Bahkan Meisya mengalami kejang-kejang beberapa kali. Dokter yang menangani membawa Meisya ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Upaya medis memberikan perawatan khusus untuk Meisya sudah optimal. Takdir berkata lain, Meisya tutup mata untuk selama-lamanya. ‘’Sudah maksimal semua upaya medis, tapi ini takdir. Hanya saja, kami berharap pemerintah cepat melakukan tindakan lebih efektif sebelum ada korban lebih banyak lagi,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here