Adi Wicaksono Piawai Sulap Logam Jadi Gamelan

25
PUKUL: Adi Wicaksono saat nglaras mata bilah demung dengan peralatan tradisional.

Menahun sudah Adi Wicaksono menjadi perajin gamelan. Lempengan demi lempengan besi disulapnya menjadi berupa-rupa peranti musik tradisional Jawa itu. Tidak asal-asalan buat, salah potong atau pukul bisa berujung ketimpangan nada yang dihasilkan.

————–

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SUARA gamelan sayup merambati telinga saat sampai pelataran rumah Adi Wicaksono di Dusun Muguraya, Desa Kedungprahu, Kecamatan Padas. Setelah melewati ruang tamu dengan hiasan dinding tokoh-tokoh wayang, tampak setumpuk gamelan berada di sudut ruangan. Sementara, dari ambang pintu dapur, si empunya rumah sibuk memukuli demung. Sambil lesehan, tangannya cekatan menekan bilah demung yang baru saja dipukul. ‘’Tes nada. Pesanan dari Pilangkenceng (Kabupaten Madiun),’’ kata Adi.

Adi menjadi perajin gamelan sejak 2010. Sekarang dia sedang mengejar deadline menyelesaikan pesanan. Lantaran masih menggunakan peralatan produksi manual, dia tidak mau buang-buang waktu. Sedikitnya, empat jenis gamelan mesti rampung dikerjakan dalam sehari.

Karena itu, tiga sampai empat tetangga sengaja diperkerjakannya. ‘’Kebetulan hari ini libur. Biasanya mereka kejatah finishing,’’ jelas Adi. ‘’Membuat gayor, merakit, atau mengecat,’’ imbuhnya sambil membongkar bilah demung dan memasukkan ke dalam rongga pada penyangga.

Adi lantas meninggalkan ruang kerja semi terbuka dan berdinding anyaman bambu itu. Tak hanya gamelan-gemelan separo jadi serta sejumlah gayor berkelir merah di pojokan, beberapa potong kayu ikut menyesaki. Tak ketinggalan bor listrik, gerinda, palu, dan landasan pukul berbahan besi cekung, nangkring di posisi masing-masing. ‘’Ya seperti ini kesehariannya,’’ ujar Adi yang datang dengan lempengan-lempengan pelat besi di genggamannya.

Adi kemudian meraih dingklik dan ambil duduk tepat di hadapan landasan pukul. Sebilah pelat besi dipasangnya di rongga landasan. Urat leher pria 54 tahun ini mengencang ketika lengannya mengayunkan palu besi ukuran sedang. Setelah beberapa kali pukulan, Adi meraih satu bilah mata demung yang tinggal dicat. ‘’Untuk pembanding nada, sudah pas atau belum,’’ terangnya.

Jemari kiri dan kanan Adi mengapit dua bilah mata demung yang baru dipukul dan yang separo jadi. Kedua mata bilah tersebut lantas dipukul-pukulkan ke lututnya yang tertekuk. Masing-masing mata bilah demung yang berdengung lantas didekatkan ke telinganya.

Mata Adi menerawang jauh –sesekali terpejam– meresapi bunyi-bunyian. Itu dilakukannya berkali ulang. Memukul dengan palu dan membandingkan nada dengan cara memukulkan ke lutut. ‘’Nglaras ini namanya,’’ kata Adi yang kemudian ganti meraih gerinda listrik untuk merapikan sisi-sisi luar mata bilah demung yang barusan ditempanya.

Rentetan panjang proses pembuatan sebilah mata demung tersebut belum selesai sampai situ. Tak jarang, Adi mesti nglaras ulang sebelum benar-benar di-finishing.  Sebagai misal, dia juga masih memukul-mukulkan bilah mata demung ke lututnya saat menggerinda. ‘’Tengen (mendengarkan dengan seksama, Red) kuncinya,’’ ujar Adi.

Demung merupakan salah satu dari sekian banyak jenis untuk satu set gamelan. Masih ada saron, peking, kenong, gender, slentem, gambang, gong, bem, kendang, dan bonang. Masing-masing masih terdapat subjenisnya lagi. Kendati begitu, dua lengan Adi mampu menyulap lempengan-lempengan besi menjadi berupa-rupa alat musik tersebut. Pun, dengan teknik dan cara yang berbeda-beda. ‘’Tiba-tiba bisa gitu aja dulu,’’ seloroh ayah satu anak ini sembari tersenyum kecil.

Sudah hampir satu dekade Adi menjadi perajin gamelan. Buah karyanya banyak diburu pemesan dari berbagai daerah. Dia paling sering mendapat pesanan dari Tuban dan Bojonegoro selain beberapa daerah di Karesidenan Madiun. Bahkan, sempat juga Adi menyelesaikan seperangkat gamelan reyog dari Sumatera. ‘’Beda-beda juga nada untuk gamelan wayang kulit, reyog, atau jaranan,’’ terangnya.

Selama ini Adi memang lebih sering membuat gamelan berbahan dasar pelat atau lempengan besi. Namun, itu bukan berarti bahwa dia tidak bisa membuat gamelan dari bahan lain seperti tembaga dan kuningan. Sementara, harga satu set gamelan dipatok mulai Rp 25 juta tanpa dilengkapi gender dan gambang. ‘’Kalau gayor kayu trembesi sudah awet. Tapi, ya tergantung permintaan juga,’’ ujarnya.

Menahun berkecimpung membuat gamelan, membuat telinga Adi kelewat hafal berbagai nada musik pengiring gending Jawa. Selain itu, macam-macam permintaan pesanan juga punya andil membuatnya kian tengen. Tak jarang dia mendapat pesanan satu jenis gamelan saja. Sering juga cuma mengerjakan gamelan bernada slendro atau pelog. ‘’Pernah dulu ada pengamen yang minta dibuatkan saron kecil,’’ kata Adi. ‘’Kasihan, tidak saya terima upah yang diberi,’’ imbuhnya.

Menyulap lempengan-lempengan besi menjadi peranti musik bernada bukan perkara gampang. Tiap detail dan tahapan pembuatan perlu perhitungan matang. Salah pukul atau kelewat banyak memapras bisa fatal akibatnya.

Selain itu, ada jenis gamelan yang butuh dilubangi seperti gender, saron, demung, dan peking, yang butuh juga tidak sembarangan melubanginya. ‘’Lubang harus seperempat dari sisi paling luar mata bilah. Geser sedikit saja suara jadi tidak bagus,’’ beber Adi.

Kepiawaian Adi membuat beraneka gemelan tidak datang begitu saja. Selain darah seni yang dia miliki dari almarhum ayahnya yang seorang dalang, belasan tahun dia bekerja ngrakit gamelan. Menahun di tempat kerja, muncul inisiatif di kepalanya untuk coba-coba membuat secara otodidik.

Adi lantas meminjam buku pakem nada, membanding-bandingkan dengan gamelan jadi, dan sering-sering mendengarkan. ‘’Habis besi banyak karena keliru dulu. Setelah dua tahun baru benar-benar bisa dan mendapat pesanan pertama kali pada 2012,’’ ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, nama Adi sebagai perajin gamelan kian mengapung ke permukaan. ‘’Dulu cari bahan baku langsung di Pasar Besi Joyo Kota Madiun. Sekarang tinggal pesan, lalu ambil besinya,’’ ujar Adi. ‘’Itu setelah penjual besi langganan, saya tinggali ukuran-ukuran gamelan,’’ sambungnya. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here