90 Persen Kelurahan Endemis Demam Berdarah

196

MADIUN – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok di Kota Madiun. Betapa tidak, penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti itu menyerang enam warga selama hampir dua pekan awal tahun ini. Bahkan, satu orang lainnya menderita dengue shock syndrome (DSS).

Kabid Pelayanan Medik RSUD Kota Madiun Denik Wuryani mengatakan, waktu pasien dirujuk kondisinya sudah terlalu lama shock. Tercatat pasien yang masih balita berusia sekitar lima tahun itu masuk rumah sakit pada pekan lalu. Dia kemudian dirawat di Ruang Melati. ‘’Beruntung daya tahan tubuh pasien tinggi sehingga cepat sembuh,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun kemarin (18/1).

Saat itu, gejala pasien DSS tersebut berupa manifestasi shock seperti kondisi akral atau ujung jari kaki dan tangan dingin. Selain itu, kulit pucat, dingin, dan lembap, terutama pada jari tangan, kaki, dan hidung.

Gejala lain, sel darah membeku akibat serangan virus dengue. Sehingga membuat pembuluh tidak berfungsi maksimal. Beruntung saat pasien shock, masih terjadi golden period. Yakni, masa di mana pasien masih sempat mendapat pertolongan seperti pemberian oksigen dan cairan infus untuk melancarkan aliran darah. ’’DBD memang tidak ada obat khusus. Adanya terapi cairan. Sekarang pasien sudah pulang,’’ ungkap Denik.

Dia memprediksi jumlah pasien DBD bakal terus bertambah seiring meningkatnya curah hujan. Bila dihitung secara total, sepanjang Januari 2019 sudah ada sekitar 20 pasien DBD dan 14 pasien dengue fever yang dirawat di RSUD Kota Madiun. Di mana sekitar 70 persen di antaranya merupakan anak usia 9 bulan hingga 10 tahun. ’’Sebagian telah pulang karena kondisinya sudah memungkinkan,’’ ujarnya.

Menurut Denik, sekitar enam pasien DBD yang menjalani rawat inap itu berasal dari wilayah Kota Madiun. Sedangkan, 14 sisanya merupakan dari luar daerah. ’’Mayoritas masuk rumah sakit dengan kondisi lemah disertai demam tinggi dan trombosit rendah,’’ terangnya.

Salah seorang pasien yang masih harus menjalani rawat inap di RSUD Kota Madiun adalah Dimas Aditya Putra Nugroho, 5, warga Kelurahan Banjarejo, Kota Madiun. Sudah hampir dua hari bocah itu dirawat di rumah sakit milik pemkot tersebut.

Bakti Nugroho, ayah Dimas, mengungkapkan bahwa putra keduanya itu mulai mengalami panas tinggi Rabu lalu (16/1). Sehari kemudian, dia memberikan obat penurun panas. Tapi, panasnya tidak turun-turun. Bahkan, tubuhnya terasa dingin. Khawatir terjadi apa-apa, Bakti kemudian membawa Dimas ke RSUD Kota Madiun pada Kamis malam (17/1).

Setibanya di rumah sakit, Dimas langsung dilakukan uji laboratorium. Bocah yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) itu juga diobservasi karena ternyata trombositnya hanya 117 ribu femtoliter berdasar hasil laboratorium. Padahal, idealnya jumlah trombosit harus mencapai 150 ribu femtoliter. ’’Sekarang sudah agak mendingan. Tapi, fase kritisnya belum lewat. Nanti pada hari keempat sampai keenam (masa perawatan, Red),’’ ungkap Bakti.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Keluarga Berencana Kota Madiun dr Agung Sulistya Wardani mengungkapkan, hujan yang terus mengguyur berpotensi membuat daya tahan tubuh makin lemah. Berbagai penyakit pun mudah menyerang. Tanpa kecuali DBD.

Berdasarkan data yang ada, 90 persen kelurahan di Kota Madiun merupakan endemis demam berdarah (DB). ’’Suatu wilayah dikatakan endemis jika tiga tahun berturut ditemukan penderita DB,’’ jelas Wardani.

Karena itu, pihaknya intensif memberikan warning kepada masyarakat melalui lurah dan camat untuk meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di semua tempat penampungan air, termasuk pemberian bubuk abate. Pihaknya juga mengaktifkan kader juru pemantau jentik (jumantik). ‘’Memang secara riil ada sejumlah masyarakat yang masuk rumah sakit akibat DB. Ya kita picu masyarakat untuk PSN-nya di samping melakukan fogging,’’ katanya.

Di samping itu, Wardani menyarankan agar masyarakat menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Misalnya, membuang sampah seperti botol plastik bekas air mineral pada tempatnya. Karena botol-botol bekas itu dapat memicu tempat perindukan nyamuk. ‘’Selain mengubah perilaku sehat, lingkungannya juga harus diperhatikan,’’ tandasnya. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here