84 Ribu Santri Menimba Ilmu di Madiun Raya

234

Pondok pesantren (ponpes) memegang peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di eks Karesidenan Madiun, terdapat ratusan ponpes berdiri. Jumlah santri diestimasikan mencapai 84 ribu orang.

SEOLAH baru sejenak santri-santri beranjak dari musala di Ponpes Al Mujaddadiyah. Lantunan azan di senja kala Minggu kemarin (21/10) tak ubahnya komando bagi mereka. Para santri sudah kembali ke dalam musala –dengan berwudhu- untuk menunaikan salat berjamaah. Keseharian yang bersahaja. Namun, itulah yang mengajarkan mereka kelak untuk selalu berpijak pada agama dan budi pekerti luhur, dalam setiap tata laku.

’’Ponpes dituntut menjawab tantangan pendidikan di zaman modern,’’ terang Pengasuh Ponpes Al Mujaddadiyah Musofa Izzudin atau Gus Sofa, kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Ponpes Al Mujaddadiyah berdiri tahun 1985. Terdapat sekitar 350-400 santri yang bermukim. Serta, 50-an santri yang tidak tinggal di ponpes tersebut. Mereka berasal dari berbagai daerah. Dari Riau, Sumatera, Kalimantan, sampai beberapa daerah di Pulau Jawa. Gus Sofa menerima santri dari tingkatan pendidikan tsanawiyah sampai perguruan tinggi. ’’Awal mulanya ponpes toriqoh. Jauh lebih tua kalau itu, mungkin usia saat ini sudah lebih dari 50 tahun,’’ kata dia.

Gus Sofa menyebut ponpes yang dia asuh sebagai ponpes modern. Memadukan kurikulum pendidikan agama dengan pendidikan umum. Ponpes tersebut bahkan memiliki SMK bagi para santri yang tertarik menekuni keahlian tertentu. Mengapa? Menurut Gus Sofa, pendidikan terus beradaptasi menjawab tuntutan zaman. Begitu pula ponpes. Mereka membuka diri, tak hanya mengajarkan ilmu agama, namun juga berbagai disiplin ilmu.

’’Sehingga, tidak hanya mencetak kiai atau ulama, tapi juga lulusan yang siap dengan berbagai kompetensi bidang. Termasuk entrepreneur,’’ terangnya.

Di Kota Madiun, ponpes tidak kian terimpit kemajuan. Justru, kata Gus Sofa, ponpes selalu menemukan caranya untuk tetap berdiri, menegakkan ilmu agama di Kota Karismatik. Gus Sofa bahkan mengklaim, animo masyarakat terhadap ponpes terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Ponpes kini tak lagi dilirik hanya sebagai alternatif. ’’Saat ini, di tengah kemajuan zaman, pendidikan karakter itu sangat penting. Dan itu bisa didapatkan di ponpes,’’ kata Gus Sofa. ‘’Sekarang banyak santri justru dari kalangan menengah atas,’’ imbuhnya.

Hari Santri Nasional 2018 yang jatuh hari ini harus menjadi momentum bagi santri untuk menengok ke belakang. Menurut Ahmad Munir, Kepala Kantor Kemenag Kota Madiun, hakikatnya hari santri ditetapkan untuk memperingati perjuangan para kiai yang rela mewakafkan hidupnya demi kemerdekaan RI. Maka, sudah sepatutnya santri mengisi kemerdekaan dengan prestasi. ‘’Karena ponpes memegang peranan vital bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri harus bisa menyelami perjuangan-perjuangan dari kiai terdahulu,’’ ujarnya.

Jawa Pos Radar Madiun melakukan penelusuran data jumlah santri di Madiun Raya (eks Karesidenan Madiun). Total santri mencapai 84. 635 orang. Para santriwan dan santriwati itu tersebar di 288 ponpes. Rincian di antaranya, Kota Madiun (1.013 santri, 6 lembaga), Kabupaten Madiun   (5.115 santri, 87 lembaga), Ponorogo  (40.000 santri, 56 lembaga), Pacitan (7.507 santri, 37 lembaga), Ngawi (11.000 santri, 150 lembaga) dan Magetan (20.000 santri, 52 lembaga). (naz/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here