8.000 Jiwa Warga Belum Punya E-KTP

88

PACITAN – Hingga kini Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Pacitan mencatatat sekitar 8.000 jiwa penduduk belum melakukan perekaman e-KTP. Angka ini terus menyusut dibandingkan awal tahun 2018 yang mencapai 17.000 jiwa. Awal Maret turun lagi jadi 12.400 jiwa lantaran terjadi perekaman besar-besaran untuk kepentingan Pilkada Serentak 2018.

Kepala Bidang Pelayanan dan Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Pacitan Djohan Perwiranto mengungkapkan libur panjang Lebaran lalu juga turut mendongkrak animo warga untuk melakukan perekaman e-KTP. ‘’Dalam sehari, saat liburan lalu setidaknya ada 250 hingga 400 warga yang melakukan perekaman,’’ katanya, Kamis (12/7).

Alhasil, dalam 20 hari kerja, total 4.200 orang telah melakukan perekaman data kependudukan mereka. Sebagian besar, lanjut Djohan, adalah warga yang merantau ke luar daerah serta pelajar yang baru genap 17 tahun usianya. ‘’Kami rasa sudah hampir semua telah melakukan perekaman,’’ ujarnya.

Dia mengklaim sisa 8.000 warga tersebut mayoritas berusia lanjut. Sehingga, perekaman sulit dilakukan jika mereka harus datang ke dukcapil. Jumlah tersebut bakal terus bertambah seiring bertambahnya anak usia 17 tahun. Karena itu, jika tidak dilakukan jemput bola, bakal sulit terekam. ‘’Kami masih kesulitan mendata warga lansia yang belum merekam e-KTP,’’ ungkapnya.

Masalah lainnya, faktor geografis yang berbukit-bukit. Tak hanya itu, jaringan untuk mengakses Kemendagri juga belum mendukung wilayah pinggiran Pacitan. Pasalnya, meski terdapat akses wifi di kantor desa masing-masing, namun jaringan tersebut tak dapat digunakan untuk menginput data. ‘’Medan di Pacitan sangat luar biasa dan jaringan internet di desa juga belum prima,’’ jelasnya.

Pihaknya sudah mengajukan untuk pembelian alat guna mengakses daerah  pelosok. Sebenarnya harga alat itu tak bakal memberatkan APBD jika dibandingkan ongkos warga harus datang ke dukcapil. Sementara untuk mendata lansia yang belum melakukan perekaman pihaknya menyebar angket ke masing-masing desa. Cara konvensional ini dinilai lebih efektif lantaran data dari desa lebih valid. Sehingga, pihaknya dapat memprediksi jumlahnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here