600 Terjangkit HIV/AIDS, Deteksi Sulit

34

MADIUN – Komisi Penanggulangan AIDS Nasional mengestimasi ada 1.521 penderita HIV/AIDS Kabupaten Madiun tahun ini. Jumlah tersebut meningkat signifikan dari tahun lalu yang hanya 921. Ironisnya, baru separo dari ribuan penderita tersebut yang tertangani komisi penanggulangan AIDS daerah (KPAD) lewat voluntary counselling and testing (VCT). ‘’Estimasi nasional untuk Kabupaten Madiun memang naik,’’ kata Sekretaris Umum KPAD Kabupaten Madiun Agrim Churnia kemarin (2/5).

Sementara, total penderita HIV/AIDS kabupaten ini sebanyak 717 orang hasil pendataan kumulatif dinas kesehatan (dinkes) sejak 2002 hingga Maret lalu. Perinciannya, 438 berstatus HIV sementara dan 279 AIDS. Termasuk penambahan 36 orang terjangkit hasil deteksi selama tiga bulan sejak Januari 2019. Dengan demkian, masih ada 600 terjangkit yang harus dideteksi oleh KPAD. ‘’Tahun ini sasaran kami cukup banyak,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Upaya kerja cepat mendeteksi penderita HIV/AIDS tidak didukung sarana yang memadai. Salah satunya keterbatasan jumlah reagen. Upaya mengajukan bantuan ke pemerintah provinsi belum mendapatkan respons. ‘’Kami tidak punya dana untuk pengadaan,’’ ucapnya sembari menyebut indikasi penderita pusat berdasarkan survei lapangan dan laporan lembaganya.

Agrim punya solusi cara agar ratusan penderita HIV/AIDS yang diklaim pusat itu bisa terdeteksi. Yakni, mewajibkan tes VCT seluruh pasien rawat inap. Karena, kecenderungannya banyak penderita terjangkit virus tersebut yang menyembunyikan kondisinya kala berobat ke rumah sakit. ‘’Kami sudah komunikasi dengan rumah sakit Kota dan Kabupaten Madiun,’’ ujarnya.

Terlepas itu, KPAD terus rajin melakukan VCT ke lokasi prostitusi dan berpotensi menjadi praktik esek-esek. Mengingat risiko terbesar penularan adalah hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK). ‘’Kami juga berkeliling ke wilayah di sekitar tempat tinggalnya penderita ODHA,’’ tandas Agrim. (fat/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here