6 Kecamatan di Ponorogo Terendam, 455 Warga Mengungsi

151

PONOROGO – Hujan sejak Rabu sore (6/3) berlangsung hampir tujuh jam. Hujan deras sedari pukul 16.00 itu membuat sirene early warning sistem (EWS) yang terpasang di Sungai Paju dan Sekayu meraung-raung. Sekitar pukul 22.00, air meluap hingga perkampungan. Melumpuhkan akses jalan utama yang dilewati dua sungai tersebut. Dalam waktu cepat, ketinggian air pun meningkat hingga seukuran pinggang orang dewasa. Hujan deras terus mengguyur.

Warga di bantaran Sungai Jenes berhamburan meninggalkan rumah menuju jalan. Namun, tak sedikit warga lanjut usia (lansia) yang tertahan. Sedikitnya,  lima lansia tetap berdiam di rumah menanti pertolongan. Selang satu jam, ketinggian air memenuhi dua ruas jalan Ponorogo-Pacitan. Akses menuju Ponorogo bagian selatan lumpuh total. Warga yang semula bertahan di dalam rumah tak punya pilihan. Harus meninggalkan permukiman, begitu pula lansia yang akhirnya dievakuasi melewati jembatan kecil yang sudah tertutup derasnya arus sungai. Sebagian warga mengungsi ke Masjid Agung diangkut truk satpol PP. Sebagian yang rumahnya belantai dua memilih bertahan. Tidak sedikit yang terjebak lantaran banjir sudah telanjur mengepung. Sementara warga di Kelurahan Kepatihan mengungsi di masjid setempat. Sapto Djatmiko, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo juga mengabarkan rumahnya terdampak kebanjiran. Pesan yang disampaikannya via whatsapp pukul 02.30, dia bertahan di lantai dua rumahnya saat air setinggi orang dewasa. ‘’Di rumah lima orang,‘’ tuturnya.

Kiriman banjir juga menyebabkan Sungai Tempuran meluap. Warga Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Brotonegaran, Ponorogo, mulai mengungsi. Tyas Wahyu Pradana, warga setempat, tiba di posko pengungsian Masjid Agung sekitar pukul 01.00 dini hari (7/3). Dia memilih meninggalkan rumah bersama keluarganya sebelum air masuk ke rumahnya. Di tengah genangan sepinggang itu, Tyas menguatkan langkah sembari menggendong anak bungsunya yang masih balita dan menggandeng anak sulungnya. ‘’Kalau menunggu nanti, kasihan anak-anak saya,‘’ kata perempuan 32 tahun itu.

Sedikitnya 35-an warga memilih berkumpul di rumah berlantai dua milik warga setempat. Sekitar 20 di antaranya masih balita. ‘’Kami masih di sini dan tinggal sementara di lantai dua,’’ ujar Veri Setiawan, warga setempat, memberikan informasi kepada koran ini via WhatsApp sekitar pukul 02.00, Kamis (7/3).

Di Kecamatan Sukorejo, terutama di sekitaran bantaran Sungai Sekayu, banjir merendam rumah warga di Desa Gandu Kepuh. Terpantau hingga pukul 15.00 kemarin (7/3), ketinggian air masih bertahan seukuran dada orang dewasa. ‘’Sejak pukul 22.00 air mulai meningkat. Subuh tadi sudah tidak naik lagi,’’ kata Sumarsono, warga setempat.

Warga 45 tahun itu menyebut, air yang membanjiri desanya tak kunjung surut. Sementara warga banyak yang bertahan di rumah. Banyak pula yang mengungsi ke tetangga yang rumahnya berlantai dua. ‘’Surutnya cuma sedikit, hanya lima sentimeteran,’’ sebutnya.

Sedikitnya terdapat 500-an jiwa yang tinggal di daerah tersebut. Mereka membutuhkan kiriman logistik. Bantuan yang dikirimkan baru sebatas nasi dan air minum. ‘’Ada bantuan nasi bungkus tadi pagi. Warga butuh selimut dan obat-obatan,’’ ungkapnya.

Banjir juga menyebabkan akses jalur Ponorogo-Wonogiri terhambat. Diberlakukan sistem buka tutup khusus untuk kendaraan roda empat. Hingga mengakibatkan kemacetan sepanjang dua kilometer. ‘’Kami bantu jaga dan atur jalan raya agar lancar,’’ timpal Darsono, warga setempat.

Gagal panen juga membayangi enam kecamatan yang mayoritas warganya petani tersebut. Dua kelompok tani (poktan) sudah menyampaikan kekhawatirannya ke dewan lantaran puluhan hektare sawah terendam banjir. ‘’Banyak warga kebingungan. Selain ada yang sakit, sawah yang sebentar lagi panen juga rusak. Dulu, ada ganti rugi semacam asuransi. Semoga pemkab bisa mengurusi,’’ tutur Wakil Ketua DPRD Slamet Hariyanto.

Kalaksa BPBD Ponorogo Imam Bashori menegaskan bantuan logistik sangat dibutuhkan. Baik makanan, obat-obatan, hingga pakaian layak pakai. Posko pengungsian dikonsentrasikan di dua tempat. ‘’Posko Masjid Agung dan Sasana Praja,’’ kata Bashori.

Banjir juga merusak infrastruktur di sejumlah lokasi. Data yang dihimpun BPBD setempat, jembatan penghubung antardesa di Broto, Slahung, terputus akibat banjir. Plengsengan di Desa/Kecamatan Slahung juga ambrol. ‘’Warga yang tinggal di sekitarnya terpaksa mengungsi,’’ terangnya.

Warga diimbau tetap waspada. Terutama bagi mereka yang masih bertahan di rumah. Dia juga meminta warga tetap sabar dan tidak panik. Hingga kemarin petang, BPBD terus melakukan evakuasi. ‘’Cepat lapor kami jika terjadi sesuatu,’’ pintanya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Setyo Budiono memperkirakan, jumlah pengungsi masih akan terus bertambah. Mengingat, evakuasi belum terhenti. Mulai kemarin pagi, BPBD memfokuskan evakuasi di Paju. Sebab, di kelurahan tersebut, ratusan warga memilih bertahan kala air bah mulai datang sejak Rabu malam (6/3). Pun di sana ada lansia, anak-anak, serta warga yang dalam kondisi sakit maupun hamil. Evakuasi memakan waktu tidak sebentar lantaran banjir sudah terlampau tinggi. Namun, masih ada seratusan warga di tiga RT yang memilih berdiam di rumah maupun sekolah. ‘’Sebagian warga tiga RT di Paju awalnya menolak dievakuasi. Pagi ini baru meminta dievakuasi ketika air sudah tinggi,’’ bebernya.

Sayangnya, hanya ada satu perahu karet bermesin yang dikerahkan BPBD untuk evakuasi di Paju. Petugas juga sempat kewalahan lantaran lokasi bencana yang menyebar. Beruntung, BPBD tak sendiri. ‘’TNI dan Polri ikut membantu,’’ tandasnya.  (mg7/naz/c1/fin) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here