45 Desa Terdampak Kekeringan, Pemprov Jatim Bantu Dropping Air Bersih

25
KRISIS: Pemprov Jatim memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat Desa Bomo, Donorojo, Pacitan. Saat ini Pacitan ditimpa bencana kekeringan dan wabah hepatitis A.

PACITAN – Kabupaten Pacitan sedang ditimpa musibah. Tidak hanya wabah penyakit hepatitis A. Namun juga bencana kekeringan. Kondisi ini membuat Pemprov Jawa Timur cawe-cawe mengatasinya. Sebanyak 300 rit bantuan air bersih disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim. ‘’Bantuan air bersih akan kami salurkan melalui Pemkab Pacitan,’’ kata Kepala BPBD Jawa Timur Suban Wahyudiono Senin (8/7).

Pihaknya mencatat 24 daerah terdampak kekeringan di Jawa Timur. Perinciannya terdiri dari 180 kecamatan dan 566 desa. Sedangkan Pacitan menyumbang 45 desa terdampak bencana kekeringan. Untuk itu pihaknya memberikan bantuan air bersih. Apalagi anggaran dropping air bersih Pemkab Pacitan terbatas. ‘’Anggaran kabupaten hanya 241 rit,’’ sebutnya.

Anggaran Pemkab Pacitan untuk keperluan bantuan air bersih selama setahun. Selain itu, pemprov memberi bantuan 250 jeriken dan 45 tandon air berkapasitas 1,2 meter kubik. Bantuan tersebut disalurkan melalui BPBD Pacitan. Namun, bantuan tersebut sekadar penanganan jangka pendek. ‘’Jangka panjang atau menengahnya nanti melalui dinas pekerjaan umum. Membangun embung, mengebor sumur, atau pemasangan perpipaan,’’ jelasnya.

Menurut dia, kekeringan menjadi bencana menahun di Pacitan. Kondisi tersebut terjadi akibat geografis Pacitan yang berupa pegunungan karst dengan karakter minim sumber mata air. Sedangkan tren peningkatan daerah terdampak bencana kekeringan juga dipengaruhi curah hujan. ‘’Bencana seperti ini tahunan saat musim kemarau,’’ tuturnya.

Pemberian bantuan dimulai sejak Minggu (7/7). Bersamaan kunjungan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ke Pacitan saat launching BLUD Plus dan peresmian gedung baru SMKN 2 Donorojo di Dusun Krajan, Bomo, Donorojo. ‘’Kalau kurang silakan minta ke BPBD Kabupaten Pacitan,’’ katanya.

Kadiran, salah seorang warga, mengungkapkan air bersih hanya tersedia pada musim penghujan. Sedangkan setiba musim kemarau, bencana kekeringan menjadi langganan. Kondisi tersebut membuat warga menyediakan bak penampungan air hujan untuk mengantisipasi kekeringan. ‘’Setiap warga punya. Minimal toren air,’’ ungkapnya.

Namun, itu tidak cukup. Sehingga, warga harus mencari air ke sumber yang jaraknya 30 menit perjalanan. Itu jika warga sudah tidak mampu membeli air bersih Rp 15 ribu per jeriken. Selama mencari air, laki-laki hanya mampu membawa sekitar 20 liter. Sedangkan perempuan sekitar 10 liter. ‘’Air itu langsung habis. Makanya mencari air dari sumber jadi kebiasaan sehari-hari,’’ bebernya.

Sementara Kepala Desa Bomo Suratmi menyebut wilayahnya gersang. Dari 11 dusun hanya terdapat tiga sumber air. Untuk memenuhi kebutuhan air, warga harus berjalan kaki cukup jauh di balik gunung. Solusinya, warga mengeluarkan dana besar untuk membangun bak penampungan air hujan yang biayanya sampai harus menjual sapi. ‘’Alhamdulillah ada bantuan pemerintah sehingga kita bisa menikmati air bersih,’’ ucapnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here