45 Desa di Ngawi Krisis Air Bersih

96
MENYUSUT: Volume air di Waduk Kedungbendo terus mengalami penyusutan.

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Musim kemarau semakin menyiksa. Pun, desa yang mengajukan bantuan air bersih terus bertambah. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi, sedikitnya ada 45 desa yang mengalami krisis air bersih pada musim kemarau tahun ini. ‘’Tahun lalu hanya 30,’’ kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Teguh Puryadi Selasa (20/8).

Teguh mengatakan, puluhan desa yang mengalami krisis air bersih tersebut mayoritas berada di wilayah gunung kapur. Mulai Karanganyar hingga Karangjati. ‘’Cadangan airnya sudah menipis. Karena berupa kapur, jadi sulit menyimpan cadangan,’’ ujarnya.

Sebanyak 45 desa itu, lanjut Teguh, tersebar di 10 kecamatan. Terbanyak di Bringin dengan 10 desa yang mengalami krisis air bersih. Disusul Pitu dengan sembilan desa yang mengajukan pasokan ke BPBD. Sementara, wilayah lainnya berkisar dua hingga lima desa. ‘’Penanganan sementara, kami hanya bisa lakukan dropping air dengan truk tangki,’’ jelas Teguh.

Dia mengamini, jumlah desa yang mengajukan bantuan air bersih masih berpotensi bertambah. Sebab, musim kemarau diprediksi berlangsung hingga November mendatang. Sementara, armada maupun personel BPBD terbatas. Belum lagi kondisi medan hingga membuat proses pengiriman membutuhkan waktu lama.

Teguh berharap warga menggalakkan penghijauan untuk menekan potensi kekeringan. Meski butuh waktu lama, kata dia, langkah tersebut merupakan solusi terbaik. Apalagi, kondisi hutan di sejumlah wilayah mulai gundul. ‘’Sebenarnya kalau pohon-pohon besar dan hutan tidak ditebangi, tanah di bawahnya bisa menyimpan air,’’ tuturnya.

Pantauan Radar Ngawi, kekeringan juga berdampak pada cadangan air di waduk-waduk Ngawi. Baik Waduk Kedungbendo, Pondok, maupun Sangiran, debit airnya mengalami penyusutan. Teriknya matahari membuat air di bendungan dengan cepat menguap. (gen/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here