40 Warga Wringinanom Terjangkit DBD

109

PONOROGO – Meninggalnya seorang bocah di Wringinanom, Sambit, meninggalkan pesan mendalam. Tak hanya bagi lingkungan sekitar korban yang masih enam tahun itu. Juga, bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Ponorogo. Bahwa demam berdarah dengue (DBD) tak bisa disepelekan.

Bagaimana bisa tidur nyenyak, di Wringinanom,  40 warganya kini terjangkiti DBD. Misnatun, 42, warga setempat, salah satunya. Dia tergeletak lemas di RSUD Dr Harjono akibat penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti itu. ‘’Sudah dua hari saya dirawat di sini,’’ katanya kemarin (13/12).

Semula, Misnatun merasa sekujur tubuhnya lemas. Setelah diperiksa ke puskesmas setempat, dia didiagnosis tifus. Belum genap sehari dirawat, trombositnya diketahui menurun. ‘’Akhirnya dirujuk ke rumah sakit setelah diketahui kena demam berdarah,’’ ujarnya.

Meski sudah mendapatkan perawatan, Misnatun semakin cemas lantaran anaknya juga tengah sakit tifus di rumah. Dia pun terbayang meninggalnya bocah 6 tahun korban DBD yang masih tetangganya tersebut. ‘’Semoga anak saya tidak sampai demam berdarah. Saya berharap pemerintah segera menangani agar korban tidak bertambah,’’ ucapnya.

Kades Wringinanom Sutini membenarkan banyak warganya yang terjangkit DBD. Dari 40 warganya yang terjangkit DBD, paling tinggi menjangkiti Dusun Krajan sebanyak 30 warga. Sisanya tersebar merata di tiga dusun lainnya: Nambang, Tambon, dan Banyu Uripan. ‘’Kami sudah melakukan pencegahan dan pembasmian jentik nyamuk. Sebulan ini pun sudah tiga kali fogging,’’ paparnya.

Tetapi, lanjut Sutini, fogging belum dilakukan menyeluruh. Sesuai penjelasan dinas kesehatan (dinkes), jika keseringan terkena cairan fogging, justru membuat nyamuk semakin kebal. ‘’Katanya sih begitu, harapan kami fogging dapat dilakukan merata ke seluruh wilayah di desa kami,’’ ucapnya.

Selain telah menerima penyuluhan dari dinkes, pemdes juga menggencarkan warganya untuk kerja bakti. Bersama-sama membasmi sarang nyamuk. ‘’Kami tidak ingin ada warga kami yang menjadi korban selanjutnya,’’ harapnya.

Merujuk data RSUD Dr Hardjono, ada delapan pasien anak DBD yang keluar-masuk setiap bulannya sepanjang September hingga November. Sementara hingga pertengahan Desember sudah masuk tiga pasien. ‘’Anak-anak itu kurang dari 18 tahun,’’ kata Suprapto, kasubag Humas RSUD Dr Harjono Ponorogo.

Untuk pasien dewasa juga tiga pasien di bulan ini. Jumlah itu meningkat dari bulan sebelumnya hanya dua pasien. ‘’Tiap pasien yang keluar kami berikan bekal pengetahuan untuk mencegah penyakit DBD dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan,’’ ujarnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here