4 Penderita Leptospirosis, 2 Tak Tertolong Jiwanya

74

PACITAN – Dampak musim penghujan tidak hanya berupa bencana alam. Namun, demam berdarah dengue,  influenza, dan diare juga berpotensi mengancam kesehatan. Pun leptospirosis tidak bisa disepelekan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mencatat, awal tahun ini terdapat empat pasien terjangkit penyakit ini. Bahkan, separo di antaranya berujung meninggal dunia. ‘’Karena terlambat ke rumah sakit. Padahal pengobatannya sederhana,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (PPP) Dinkes Pacitan Wawan Kasianto kemarin (2/2).

Wawan mengungkapkan, bakteri leptospirosis hidup dalam tubuh hewan perantara seperti tikus, kuda, hingga babi, yang dikeluarkan melalui urine atau air kencing. Biasanya terbawa air atau mengendap di tanah. ‘’Para penderita sejauh ini punya riwayat kontak dengan tempat-tempat kotor. Atau yang dimungkinkan menjadi tempat hidup tikus,’’ ujarnya.

Masyarakat wajib mengenali dengan baik leptospirosis. Pasalnya, gejalanya tidak jauh beda dengan penyakit lain. Pun seperti demam berdarah. Jika sudah demam lebih tujuh hari, wajib waspada. Biasanya demam berlanjut dengan munculnya bintik kuning pada kulit. Setelah itu, kondisi penderita berangsur membaik. Padahal, kondisi itu merupakan tanda penderita masuk ke fase kedua yang lebih fatal. ‘’Pada fase kedua, infeksi penyakit bisa menjalar ke organ vital. Penderita bisa mengalami gagal ginjal sampai radang selaput otak (meningitis),’’ jelas Wawan.

Berkaca dari riwayat kontak para penderita sebelumnya, Wawan mengimbau masyarakat lebih waspada. Pasalnya, di Pacitan penyakit tersebut tergolong rancu. Seperti di Kecamatan Tulakan dan Pringkuku. Warga yang kerap melakukan kontak dengan tempat kotor diharapkan sudi melindungi diri dengan memakai alas kaki. ‘’Agar meminimalkan tempat hidup hewan-hewan pembawa bakteri tersebut,’’ tuturnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here