4.000-an Lembar Suket Masih Beredar di Pacitan

2802

PACITAN – Hingga kini di Kabupaten Pacitan tercatat masih ada 4.000-an jiwa warga yang memegang surat keterangan (suket) pengganti e-KTP. Tersebar nyaris merata di 12 kecamatan. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan jadi kendala rencana pusat yang akan menggantinya dengan e-KTP. Sebab, dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil) setempat kekurangan blangko, peralatan, hingga personel.

Diketahui, suket memang hanya berlaku hingga enam bulan. Sehingga, harus diganti e-KTP jika masa berlakunya habis. Namun, masyarakat dinilai cenderung abai. Mereka menganggap untuk mengurus suket atau e-KTP sudah selesai. ‘’Padahal mereka sudah foto dan perekaman data, tapi jarang ada yang menanyakan kembali,’’ kata Kabid Pendaftaran dan Pelayanan Dispendukcapil Pacitan Djohan Perwiranto kemarin (14/12).

Padahal, pihaknya sudah sering mengimbau warga pemegang suket untuk segera menggantinya dengan e-KTP. Bahkan, meminta pihak kecamatan untuk menjaring pengguna suket. Tidak ada target waktu penerapan e-KTP menyeluruh. Dia hanya berharap secepatnya. ‘’Kami selalu berikan imbauan ke masyarakat,’’ ujarnya.

Meski begitu, jika 4.000-an warga tersebut serentak minta ganti e-KTP, pihaknya pun belum siap. Sebab, blangko yang tersedia saat ini kurang dari jumlah tersebut. Bahkan, hanya tinggal ratusan keping. Tidak heran jika saat ini diprioritaskan untuk masyarakat yang membutuhkan. ‘’Seperti pasien BPJS Kesehatan yang masuk rumah sakit dan lainnya,’’ tuturnya.

Djohan menyebut pihaknya terakhir kali mendapat blangko Rabu pekan lalu (5/12). Namun, hanya 1.000 keping. Itu tidak beda dengan daerah lain. Padahal, harus jauh-jauh mengambil ke Jakarta. ‘’Kalau bisa, kami ajukan maksimal hingga 20 ribu, tapi dapatnya berapa juga tidak pasti,’’ ungkapnya.

Keterbatasan personel juga jadi kencala lainnya. Dia hanya punya dua kepala seksi dan seorang staf. Sehingga, rasio petugas dan pemohon tidak ideal. Perbandingannya satu orang menangani 5.901 pemohon. Sedangkan alat juga hanya tiga unit. ‘’Satu ready di kantor, sedangkan dua lainnya dikeliling ke desa-desa,’’ beber Djohan.

Ironisnya, sebagian dari ketiga alat itu hasil kanibal. Awalnya akan menggunakan alat kecamatan. Namun, terjadi kerusakan komponen. Baik sidik jari, pemindai iris mata, dan lainnya. Sehingga, komponen tersebut dikanibal dan dirangkai kembali. Sedangkan untuk memperbaiki alat, tidak proporsional. ‘’Ongkos memperbaiki dengan harga alat hampir imbang,’’ terangnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here