3.665 Balita di Magetan Alami Stunting

45

MAGETAN – Pemkab Magetan berani mengklaim penderita stunting sudah turun. Meski begitu, pemkab dan warga masih perlu meningkatkan kepedulian terhadap gizi balita di bawah usia dua tahun.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar Magetan, tahun ini balita yang mengalami stunting berjumlah 3.665 balita atau 10,5 persen. Padahal tahun lalu jumlahnya hanya 12,4 persen. Kabid  Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Magetan Imam Suwarso mengatakan, problem stunting karena rendahnya kualitas gizi makanan (faktor kemisikinan). Juga, akses pelayanan terhadap pelayanan kesehatan dan pola asuh kurang baik. ’’Stunting di Magetan dominan karena kurangnya kualitas gizi makanan warga,’’ ungkapnya.

Menurutnya, selama 5 tahun terakhir, penderita stunting terhitung fluktuatif. Tahun ini Magetan masih aman dari target yang ditentukan Jawa Timur, yaitu 25 persen. ‘’Penyakit ini hampir menyebar merata di Jawa Timur. Kami berhasil menekan angka stunting di Magetan’’ ujarnya.

Hasil tersebut justru berbeda dengan data stunting dari Kementerian Kesehatan RI.  Berdasarkan data riset kesehatan dasar (riskesdas), balita yang mengalami stunting di Magetan berjumlah 30,2 persen. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Furiana Kartini mengatakan, stunting dapat dideteksi melalui berat badan terhadap  umur dan berat badan. Selain memengaruhi pertumbuhan fisik, stunting juga berpengaruh kondisi intelektual dan skill anak. ’’Anak yang menderita stunting dikhawatirkan tidak bisa survive menjalani kehidupan,’’ jelasnya.

Terkait menekan kasus stunting di Magetan, pihaknya masih terus mengedukasi kepada masyarakat terkait pendidikan gizi. Selain itu, memberdayakan pos gizi, air susu ibu (ASI) eksklusif, dan pemberian makanan tambahan kepada orang tua asuh. ’’Kami juga berikan pelatihan teknis kepada para petugas kesehatan tentang cara menangani permasalahan gizi. Masyarakat perlu tahu betapa pentingnya posyandu untuk mengontrol balitanya dengan memberikan PMT (pemberian makanan tambahan, Red),’’ terangnya.

Ketika disinggung terkait data yang berbeda dengan Kemenkes RI, pihaknya enggan untuk berkomentar. ’’Untuk 2017 data stunting memakai data hasil pemantaun status gizi (PSG ). Bedanya kalau PSG dilaksanakan 1 tahun sekali, kalau riskesdas 5 tahun sekali. Jadi, data kita karena petugas di lapangan juga belum terlatih seperti yang dilakukan Kemenkes,’’ pungkasnya. (mgd/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here