MadiunPendidikan

28 Siswa Difabel Ikuti Uji Coba Tatap Muka

Kontak Erat, Guru Pakai Hazmat

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Enam kelas SLBN Banjarsari Wetan, Dagangan, Kabupaten Madiun, kembali riuh Selasa (18/8). Selama tiga jam mulai pukul 07.30, puluhan anak berkebutuhan khusus (ABK) setingkat SD, SMP, dan SMA itu berjumpa dengan guru dan teman kelas.

Aktivitas itu hari pertama pelaksanaan uji coba kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka. Setelah hampir enam bulan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena pandemi Covid-19. ‘’Anak-anak senang sekali,’’ kata Kepala SLBN Banjarsari Wetan Handik Indarwati.

Uji coba diikuti 28 dari total 102 siswa difabel. Perinciannya, 14 siswa setingkat SD, 10 siswa SMP, dan 4 siswa SMA. Masing-masing kelas diisi maksimal lima siswa. Sejatinya, peserta uji coba hanya siswa setingkat SMA. ‘’SD dan SMP diikutsertakan karena jumlah siswa di sini tidak banyak. Selain itu, pembelajaran daring banyak kendala. Mulai internet sampai kemampuan orang tua mendampingi ABK,’’ bebernya.

Materi pelajaran yang diberikan disesuaikan kemampuan masing-masing siswa. Ada yang sekadar melepaskan kancing baju pada media pembelajaran, menyusun balok, dan mewarnai. Mereka juga diajarkan mengenai adaptasi kebiasaan baru (AKB). Handik menyambut baik upaya pemerintah menormalkan dunia pendidikan lewat uji coba KBM di kelas. Hal tersebut dirasa perlu berkaca keterbatasan PJJ selama ini. ‘’Ada sebagian kecil orang tua yang tidak mengizinkan. Tapi, kami sudah persiapkan protokol kesehatan untuk anak-anak di sekolah,’’ tegasnya.

Handik mengklaim pelaksanaan uji coba menerapkan protokol kesehatan ketat. Bahkan, salah seorang siswa diminta pulang ke asrama karena panas tubuhnya mencapai 37 derajat Celsius. Siswa bersangkutan diduga kelelahan berangkat sekolah jalan kaki sejauh 50 meter. ‘’Kami minta istirahat,’’ ujarnya.

Dia menyebut, seorang guru kelas rendah, diharuskan mengenakan pakaian hazmat. Kewajiban itu menilik intensitas tinggi kontak fisik dengan siswa difabel. Seperti tunadaksa, tunanetra, dan autis multiple handicap. ‘’Kelasnya mengharuskan ada kontak fisik antara siswa dengan guru. Karena itu, wajib pakai APD (alat pelindung diri, Red),’’ ucapnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close