2020 Bundaran Taman Bakal Dirombak

137
DCIM100MEDIADJI_0496.JPG

MADIUN – Ikon, event, dan penataan pedagang kaki lima (PKL). Ketiganya merupakan kunci dalam mengembangkan Kota Karismatik. Tak hanya menata untuk mempercantik, namun juga mengembangkan sumber-sumber perekonomian baru. Khusus ikon daerah, pemkot rupanya sudah ancang-ancang dengan berbagai kajian. Teranyar, mereka berencana merombak wajah Bundaran Taman agar lebih ikonik. ’’Beberapa alasan mendasari perlunya menata Bundaran Taman,’’ kata Kepala Bappeda Totok Sugiharto, Kamis (29/11).

Kemarin bappeda setempat menggelar focus group discussion (FGD) berkaitan rencana penataan Kota Madiun ke depan. Jawa Pos Radar Madiun ikut diajak berembuk. Menurut Totok, perlu menata sejumlah lokasi agar menjadi ikon yang bisa dibanggakan daerah. Upaya memang sudah dilakukan dengan merombak beberapa ruang terbuka hijau (RTH). Namun, itu belum cukup. ‘’Bundaran Taman contohnya. Butuh ditata karena rawan muncul persoalan dalam jangka panjang,’’ ujarnya.

Selama ini, lanjut Totok, Bundaran Taman menjelma menjadi satu titik perputaran ekonomi baru bagi warga Kota Madiun. Tiap minggu pagi, bundaran hingga Jalan Taman Praja dipadati pedagang dan warga yang ingin berjalan kaki menghirup udara segar. Titik perputaran ekonomi baru lantas menimbulkan masalah kemacetan.

Berangkat dari berbagai hal itu, disperkim mengajukan kajian penataan kepada bappeda. Mereka lantas menggandeng Badan Pengembangan dan Pengelolaan Usaha (BPPU) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Hasil kajian, butuh duit Rp 6 miliar untuk menata sesuai harapan pemkot. ‘’Nantinya, dari penataan itu akan mengoptimalkan fungsi estetika, sosial, dan ekonomi dari Bundaran Taman,’’ tuturnya. ’’Tapi, untuk eksekusinya menjadi kewenangan disperkim,’’ imbuh Totok.

Kepala Disperkim Soeko Dwi Handiarto menargetkan akan merombak Bundaran Taman pada 2020 mendatang. Pada P-APBD 2019 mendatang, pihaknya baru bisa mengusulkan detail engineering design (DED). Biaya Rp 6 miliar belumlah mutlak. Menurut Soeko, masih bisa berubah tergantung detail berbagai item dalam proyek penataan tersebut. Semisal, jenis pepohonan yang akan digunakan untuk menambah fungsi estetika. ‘’Berapa pohon yang akan ditanam, jenisnya apa, atau pelengkap lain, itu diperjelas di DED,’’ kata Soeko.

Pemred Jawa Pos Radar Madiun Ockta Prana yang kemarin menjadi salah satu narasumber FGD mendukung langkah pemkot. Ockta menekankan urusan penataan Kota Karismatik perlu menyasar tiga hal: penambahan ikon daerah, memperbanyak event, serta menata PKL. Dia mencontohkan daerah seperti Ponorogo yang memiliki banyak ikon berupa patung di berbagai ruas jalan. Bangunan ikon gading di Boyolali juga bagus. Berbagai monumen ikonik itu juga menjadi daya tarik bagi warga luar daerah.

‘’Lebih baik mahal tapi monumental. Tidak setengah-setengah seperti patung pedagang pecel, atau macan di median alun-alun,’’ ujarnya. ’’Dalam pelaksanaannya butuh ahli, baik arsitek maupun seniman, supaya presisi,’’ imbuh Ockta.

Ketika daya tarik kota bertambah dengan kehadiran berbagai ikon, gelaran event perlu diperbanyak. Banyuwangi maupun Jember patut menjadi contoh. Betapa event kreatif sanggup mendatangkan wisatawan dalam skala besar. Kota Madiun, kata Ockta, harus berani mengejar kedua daerah itu. Terlebih, Tol Trans-Jawa (TTJ) sudah sambung-menyambung menuju Madiun. ‘’TTJ membuat orang lebih mudah menjangkau event kreatif. Terutama event seni dan olahraga,’’ sebutnya.

Hal terakhir yang perlu segera ditangani pemkot adalah PKL. Telaga Sarangan di Magetan sudah menjadi korban. Betapa PKL sanggup menjadi bom waktu yang bisa berdampak serius bagi sebuah objek wisata. Semakin padatnya PKL di Telaga Sarangan membuat keindahan view yang dijual kepada wisatawan justru sirna.

‘’Ponorogo dan Ngawi sudah mengambil langkah penertiban. Kalau tidak, akan jadi bom waktu,’’ ungkapnya. ‘’Dengan dilokalisasi dan ditata yang baik, justru bisa menarik massa ke lokasi tersebut. Dulu sempat ada kajian memfokuskan PKL di timur alun-alun, Jalan Bogowonto juga bisa jadi pilihan,’’ imbuh Ockta. (naz/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here