2018 Terjadi 43 Kasus Hukum Libatkan Anak

54

PACITAN – Kabupaten Pacitan belum ramah anak. Buktinya, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) masih relatif tinggi. Kementerian Sosial (Kemensos) mencatat, 43 kasus hukum yang melibatkan anak terjadi di Pacitan sepanjang 2018. ‘’Ada yang melibatkan anak sebagai pelaku, ada pula sebagai korban,’’ kata Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kemensos Eva Noor Martani.

Kasus asusila, menurut Eva, jadi catatan khusus. Pasalnya, dari total kasus tersebut, 10 di antaranya asusila. Terutama pencabulan. Bahkan, salah satu korban saat ini mengandung tujuh bulan. Lantaran masih belia, tak jarang para korban tak mengerti dampak perbuatan yang menimpanya. ‘’Seperti pencabulan (di Tulakan, Red) yang terakhir itu, ibunya sangat syok dan trauma atas kasus yang menimpa anaknya,’’ ujarnya sembari menyebut kasus pencabulan kebanyakan berujung ke nikah dini.

Kasus sodomi juga mengkhawatirkan. Pasalnya, dari yang awalnya korban, 99 persen tak menutup kemungkinan bakal jadi pelaku. Itu berkaca dari kasus yang selama ini ditangani. Jika tak mendapat pemahaman, sosialisasi, hingga rehabilitasi, perilaku menyimpang tersebut mudah muncul kembali dari korban. Sehingga, ada kemungkinan kasusnya meningkat tahun mendatang. ‘’Karena itu, peran orang tua sangat penting,’’ tegas Eva sembari menyebut tak sedikit orang tua acuh dengan kondisi tersebut.

Selain jadi korban orang dewasa, beberapa kasus pelakunya anak. Mayoritas didominasi pencurian dan penganiayaan. Pergeseran budaya, serta mudahnya terpengaruh hal-hal negatif disebut jadi biang beberapa kasus yang melibatkan anak sebagai pelaku. Meski tak semua kasus tersebut berakhir ke bui. ‘’Beberapa ada yang diversi, karena ancaman hukumannya kurang dari tujuh tahun,’’ terang pekerja sosial di Pacitan ini.

Menurut Eva, masyarakat Pacitan mudah menerima informasi dan sosialisasi. Namun, kondisi medan yang sulit menjadi kendala. Pasalnya, tak sedikit kejadian yang melibatkan anak terjadi di wilayah pinggiran. Padahal, ketika berurusan dengan kasus anak, pihaknya harus kerap home visit, meninjau psikologi anak di rumah. ‘’Jaringan informasi kita sudah bagus. Tapi, geografis dan cuaca kerap mengganggu saat melakukan rehabilitasi anak,’’ pungkasnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here