Bea Cukai Tangkap Pelaku Bisnis Rokok Bodong

121

MADIUN – Jejaring peredaran rokok ilegal di kawasan Madiun Raya terus dibongkar. Baru-baru ini petugas dari tim Kantor Bea Cukai Madiun mengamankan Sarjoko, warga Desa/Kecamatan Mantingan, Ngawi. Ikut diamankan 988 bungkus rokok bodong. ’’Delapan bulan pengintaiannya, ini murni penyelidikan mandiri pertama dari kami,’’ kata Kepala Kantor Bea Cukai Madiun Gatot Priyo Waspodo.

Dia menjelaskan, Sarjoko ditangkap pada 15 Mei lalu di Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Ngawi. Hasil pengungkapan, Sarjoko kedapatan menjual rokok dalam bentuk eceran ke sejumlah toko yang ada di wilayah Bumi Orek-Orek. Mulai kawasan Gendingan, Walikukun, Sekarputih, Sekaralas, Sidolaju, Kauman, Takteng (Kecamatan Widodaren), Sekarjati, Karanganyar, dan Mantingan. ’’Juga kami temukan sudah beredar di kawasan kota (Ngawi),’’ ujarnya.

Hasil penyelidikan, Sarjoko mengetahui bisnis haram itu dari seseorang yang tak dikenal. Orang itu mengklaim dirinya sebagai distributor rokok. Sarjoko tergoda iming-iming memasarkan setelah mendapatkan tawaran yang menggiurkan. ’’Posisi distributor di Mantingan saat dilakukan penyelidikan sudah melarikan diri, di rumahnya tidak ada,’’ ungkapnya.

Ada tiga orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Diduga, satu orang bertindak sebagai distributor dan dua lainnya adalah agen dari pabrik rokok. Petugas bea cukai masih dalam tahapan penyelidikan dan  pengembangan terkait pabrik rokok ilegal tersebut. ’’Ini terputus informasinya, karena distributor dan agen-agennya itu belum tertangkap,’’ tegasnya.

Lanjutnya, potensi keuntungan dari rokok ilegal cukup besar. Harga jual per bungkus jauh lebih murah dari harga rokok legal. Keuntungan yang didapat per bungkus mencapai Rp 4.000. ’’Itu baru keuntungan pengecernya, belum yang punya usaha itu,’’ paparnya.

Bukan hanya itu, merek rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM) ilegal tersebut juga dibuat mirip dengan merek yang asli. Desain produk rokok mirip dengan rokok legal. Ada delapan merek hasil penyelidikan petugas bea dan cukai. Mulai New  Fel Super, Laris Mild, Sekar Madu SMD, Super Pro Mossi Executive, L4 Bold, New Beruang Executive, Laris Brow, New Exclusive Nidji, New Gunjhill, dan Gudang Gaman. ’’Semua rokok itu tanpa dilengkapi pita cukai dan per bungkus isinya ada 20, dilihat sekilas mirip,’’ jelasnya.

Mudahnya penjualan eceran rokok tersebut juga dipicu ketidaktahuan masyarakat seputar rokok berpita cukai.  Utamanya masyarakat pedesaan yang menjadi sasaran tersangka. Sehingga mudah terkecoh menjual rokok ilegal. Perlu adanya sanksi di sejumlah toko  yang kedapatan menjual rokok ilegal. ’’Kebanyakan penjual tidak tahu kalau kalau rokok itu ilegal,’’ tegasnya.

Akibat kejadian ini petugas bea dan cukai Madiun telah menyebut zona merah untuk wilayah hukum bea cukai Madiun. Artinya, berpotensi peredaran rokok ilegal di Madiun Raya dan peningkatan kewaspadaan.  Diduga  potensi kerugian negara akibat bisnis gelap ini mencapai Rp 9,3 juta. ‘’Tersangka melanggar pasal 54 tentang cukai pidana penjara paling lama lima tahun,’’ ujarnya. (mg2/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here