19 Bangunan Kuno Resmi Cagar Budaya

97

MADIUN – Selangkah lagi, bangunan sarat sejarah di Kota Madiun bergelar cagar budaya. Disbudpar Jatim setujui usulan 19 bangunan kuno di Kota Madiun untuk menyandang status tersebut. Seluruh usulan telah diteliti oleh tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan di Mojokerto. Pemkot menargetkan bulan depan surat keputusan (SK) cagar budaya bisa diterbitkan. ‘’Paling lambat awal Oktober,’’ kata Kepala Disbudparpora Agus Purwowidagdo.

Waktu yang dilalui cukup panjang sampai Disbudpar Jatim akhirnya menyetujui 19 usulan pemkot. Agus mengklaim sejak tahun lalu usulan telah disodorkan. Dari 50 bangunan kuno, 19 yang diusulkan untuk mendapat status cagar budaya. Pun, tim BPCB sudah dua kali turun gunung melakukan penelitian (Oktober dan Februari ). ‘’Bangunan-bangunan itu dinyatakan sarat nilai sejarah,’’ terangnya.

Sejumlah bangunan kuno itu antara lain Balai Kota Madiun, kompleks gereja katolik Santo Cornelius, kompleks sekolah Santo Bernardus, Stasiun Besar Madiun, Kelenteng Hwi Ing Kiong Madiun, kompleks Pabrik Gula Redjo Agung Baru, hingga Rumah Kapitan Cina. Agus mengklaim, para peneliti BPCB terkagum dengan rumah tua yang terletak di Jalan Kolonel Marhadi itu.

Berdasarkan data yang dimiliki disbudparpora, Rumah Kapitan Cina dulunya merupakan aset pemerintah kolonial Belanda. Sejak 1912, rumah Eropa abad XIX bergaya Victorian itu dihuni oleh seorang kapitan Tionghoa. Aset sejarah yang harus dijaga, karena saat ini hanya ada dua di Indonesia. ‘’Selain di Madiun, yang masih terawat baik ada di Medan. BPCB kagum dengan kondisi bangunannya yang masih bagus,’’ beber Agus.

Keharusan melestarikan menjadi alasan utama mengapa pemkot getol segera memproses SK cagar budaya untuk 19 bangunan kuno tersebut. Agus berharap Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR) bisa menandatangani SK penetapan tersebut pada September. Dengan demikian, nasib 19 bangunan kuno itu bisa benar-benar terlindungi. Rencananya, pemkot bakal memanfaatkannya sebagai tempat digelarnya sejumlah event budaya. ‘’Dengan ditetapkan sebagai cagar budaya, ada koridor yang jelas dalam mengatur perawatan dan pelestarian bangunan bersejarah itu. Termasuk pemanfaatannya, tidak boleh sampai merusak bangunan,’’ urainya.

Apa dampak positif yang diharapkan dari penetapan cagar budaya tersebut? Pengamat ekonomi lokal Muhammad Imron mengatakan, imbas utama yang diharap-harapkan dari penetapan tersebut adalah munculnya destinasi wisata baru. Dengan disetujuinya 19 bangunan kuno menjadi cagar budaya oleh pemprov, menandakan jika Kota Madiun sebenarnya punya potensi mengembangkan industri pariwisatanya. ‘’Terutama wisata minat khusus sejarah. Apalagi, Rumah Kapitan Cina hanya ada dua di Indonesia,’’ ungkapnya.

Doktor yang kini menjabat dekan Fakultas Ekonomi (FE) Unmer Madiun itu menilai Kota Madiun perlu menggenjot industri pariwisatanya. Lewat cara itu, ekonomi warganya bisa lebih cepat terangkat. Sebab, dengan datangnya wisatawan, multiplier effect akan didapat. Khususnya, usaha-usaha kelas mikro kecil dan menengah (UMKM). Tidak hanya UMKM, usaha transportasi hingga perhotelan juga terimbas positif. ‘’Penetapan itu harus bisa membangkitkan industri pariwisata Madiun. Wisata sejarah itu memiliki peminat yang cukup luas, jangan sampai potensi itu terlewat,’’ ucapnya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here