Anggaran Kekeringan Ikut Mengering

76

JIWAN – Dana bantuan bencana kekeringan yang digelontor ke kantong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kabupaten Madiun ’’kering’’. Kemarau yang oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya diprediksi berlangsung hingga November itu hanya di-back up anggaran Rp 5 juta.

Kepala Pelaksana BPBD Madiun Edy Harianto mengaku miris dengan minimnya jatah anggaran yang diterima tersebut. Jelas besarannya tak sebanding dengan potensi ribuan warga terdampak di kabupaten ini. ‘’Cukup tidak cukup,’’ ungkapnya gamang.

Dana Rp 5 juta, perkiraan Edy hanya mampu menyediakan hingga 125 ribu liter air bersih. Estimasinya 25 tangki yang per unitnya menampung lima ribu liter. Namun, cukup-tidaknya sangat bergantung pada tingkat kebutuhan dan luasan wilayah terdampak.  ‘’Khusus wilayah terdampak tentu perlu penyaluran intens,’’ tegasnya.

Minimnya alokasi dana bencana kekeringan tahun ini bukan tanpa sebab. Tahun lalu, BPBD sama-sekali tidak menyalurkan air bersih untuk satu wilayah sekalipun. Sementara kemarau tahun ini mendasar rapat koordinasi (rakor) regional BPBD se-Jatim Mei lalu, lebih panjang dari perkiraan.  ‘’Minimnya anggaran ini harus diantisipasi,’’ tuturnya.

Edy menjabarkan beberapa langkah yang bisa ditempuh. Salah satunya memohon bantuan BPBD Jatim. Dia yakin pemprov siap mem-back up sepanjang didahului pemberitahuan. ‘’Kami juga masih bisa mengajukan dari pos anggaran tidak terduga. Atau, mengalihkan beberapa posting anggaran lain di PAK (perubahan anggaran keuangan, Red),’’ ujarnya.

Edy meyakini dana yang tersedia itu cukup untuk mengantisipasi kekeringan sampai akhir tahun. Sepanjang lima tahun terakhir, permintaan dropping hanya berlangsung pada 2014. Di Desa Plumpungrejo, Wonoasri, dan Kecamatan Gemarang. ‘’Semoga kemarau tahun ini tidak berdampak serius,’’ harapnya. (cor/c1/fin)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here